Minggu, 21 Mei 2023

Apresiasi, Kritik dan Saran, Kebangkitan Adat Budaya dalam 1 Tahun Kepemerintahan Bupati Limi Mokodompit

Satu tahun kepemerintahan PJ Bupati Ir Limi Mokodompit, MM, patut diberi apresiasi karena menjadi penanda kebangkitan adat dan budaya sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat adat, para pemangku kebudayaan, dan pegiat budaya di Kabupaten Bolaang Mongondow.

Ir Limi Mokodompit yang turut disematkan padanya gelar Bogani, dinilai mampu dan berhasil menjadi tumpuan kebangkitan Adat dan Kebudayaan Bolaang Mongondow. Namun dalam hal tersebut, selain apresiasi satu tahun kepemerintahan PJ Bupati Limi Mokodompit, juga tak luput dari kritik dan saran dari budayawan, dan para pegiat budaya di Bolaang Mongondow.

Diwawancarai, Senin (22/5) Budayawan senior Chairun Mokoginta mengatakan, PJ Bupati Limi Mokodompit berhasil mendorong dan memotivasi para para pemangku kebudayaan untuk menegakkan kembali adat dan budaya dan menjaga kesakralannya.

"Dalam hal pemajuan adat dan kebudayaan di Bolaang Mongondow kurun waktu satu tahun masa jabatan Pj. Bupati Bogani Ir. Limi Mokodompit MM. Menurut pengamatan kami pada umumnya berjalan dengan baik sesuai harapan masyarakat adat Bolaang Mongondow. Dengan adanya dukungan penuh pemerintah dalam berbagai aktivitas masyarakat di bidang adat dan budaya mampu mendorong semangat para pemangku kebudayaan di Bolaang Mongondow untuk menggali, mengembangkan, memberdayakan dan melestarikan adat dan budaya Bolaang Mongondow. Pj. Bupati Bolaang Mongondow Bogani Ir. Limi Mokodompit berpesan kepada kami dengan berbahasa mongondow _'Mobuipa posindogon adat bo budaya Bolaang Mongondow ba' mosakralpa'_ Pesan luhur penuh makna yang diucapkan oleh seorang pemimpin mengabarkan bahwa Pj.Bupati Bolaang Mongondow Bogani Ir. Limi Mokodompit Cinta tanah kelahiran Totabuan dengan adat istiadat dan budaya nya yang hingga sekarang masih tetap dipertahankan dan dipatuhi oleh masyarakat Bolaang Mongondow," ujarnya.

Lebih lanjut, sebagai saran, Chairun Mokoginta meminta agar pihak pemerintah kabupaten Bolaang Mongondow dimasa kepemimpinan Bogani Ki Limi kedepan setelah di perpanjang masa jabatannya sebagai PJ Bupati Bolmong agar segera membentuk Perda adat dan Dewan Adat.

"Harapan saya kedepan sebagai budayawan mengusulkan agar dibentuk Dewan Adat secara berjenjang dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan dan kabupaten serta Peraturan Daerah (PERDA) tentang Dewan Adat untuk mendukung program pemajuan adat dan budaya di Bolaang Mongondow," kata Mokoginta.

Terpisah, kritik dan saran juga di tuturkan oleh Uwin Owen Mokodongan selaku direktur Monibi Institut.

Menurut Uwin yang menjadi catatan penting bagi pemerintah Bolaang Mongondow adalah memperhatikan program kegiatan dari dinas terkait, mendukung gerakan pelestarian bidang kebudayaan, dan membangun tugu sebagai pengingat peristiwa-peristiwa bersejarah.

"Geliat pembangunan bidang adat, tradisi, dan kebudayaan di Bolmong dalam rentang waktu setahun kepemimpinan Pj. Bupati Limi Mokodompit, tentu waktu ini sangat singkat jika dijadikan sandaran pengamatan pun penilaian. Kecuali itu, ada beberapa catatan yang menjadi penting untuk diperhatikan yakni pertama, program kegiatan dari dinas terkait. Disbudpar misalnya yang sebenarnya memiliki keterkaitan dengan Bappeda dan DLH karena kemarin itu sudah ada dokumen Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten atau disebut Ripparkab yang merupakan dokumen perencanaan pembangunan kepariwisataan Daerah Kabupaten (Bolmong) untuk periode 5 (lima) tahun. Hal ini erat kaitan dengan kebudayaan tentunya, sebut saja beberapa situs budaya di Bolaang Mongondow yang perlu diperhatikan termasuk melestarikan ritus yang sebenarnya masih hidup di masyarakat kita, contohnya di wilayah Dumoga seperti di Siniyung dan Tudu Bumbungon yang merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan. Belum lagi di Bilalang, juga beberapa daerah lainnya. Disbudpar Bolmong mengacu saja di dokumen Ripparkab itu selain melibatkan sejumlah elemen dan komintas budaya yang ada.

Kedua, pemerintah tentu penting mendukung gerakan pelestarian bidang kebudayaan yang kini dilakoni sejumlah elemen meliputi lembaga maupun komunitas budaya. Kegiatan festival budaya misalnya, ini penting dilaksanakan selain merupakan perayaan atas kebudayaan yang ada di daerah ini. Boltim misalnya yang sukses dengan perayaan kebudayaan dalam bentuk festival.

Ketiga, adalah soal pembangunan tugu. Mengapa ini penting? sebab kita memang membutuhkan penanda meliputi sejarah dan kebudayaan. Ini sekaligus merupakan pengingat peristiwa-peristiwa bersejarah. Saya mau kasih contoh misalnya pembangunan tugu pertemuan antara Raja Bolaang Mongondow dan Diego de Magalhaes di pesisir Bolaang. Ini terjadi di tahun 1563 sebagaimana catatan pelaku sejarah itu sendiri yakni Diego de Magelhaes orang Spanyol yang bekerja pada ordo Jesuit Portugis. Ia sendiri yang mencatat bahwa ia bertemu Raja Bolaang di tahun itu. Di Buntalo juga bisa dibuatkan Tugu Maindoka, yang menjadi pengingat bagaimana Boki Silagondo terlibat konflik dengan Spanyol gara-gara rebutan anjing pintar milik Boki Silagondo istri dari Punu Yayubangkai. Selanjutnya di Tudu In Bumbungon, kelahiran Mokodoludut dan kisah-kisah yang fenomenal dan begitu membekas yang hingga saat ini tradisinya masih dijaga masyarakat Dumoga terutama di desa Siniyung. Betapa penting sebab Tudu In Bumbungon adalah cikal bakal berdirinya kerajaan. Tapi coba kita lihat hari ini seperti apa Tudu In Bumbungon saat ini? Tugu Lombagin juga sebagaimana sudah diusulkan PS2BMR yang tepat sekali dibangun di simpang tiga jembatan Kaia. Tugu yang dibangun ini merupakan penanda-penanda peradaban dan jalannya sejarah Bolaang Mongondow itu sendiri. Siapa lagi kalau bukan kita yang memperhatikannya. Ini hanya beberapa poin kecil diantara banyaknya pekerjaan rumah terkait sejarah, adat, tradisi, dan kebudayaan di Mongondow.

Terakhir adalah soal dukungan bidang literasi. Hari ini lahir lembaga, komunitas, dan penulis-penulis lokal yang sedang mengerjakan bukunya terkait sejarah Bolaang Mongondow meliputi kebudayaan di dalamnya. Sebagian sudah diterbitkan. Sebagian sedang dalam penggarapan. Begitu mengharukan karena mereka tetap semangat mengerjakannya secara swadaya meski dihimpit keterbatasan terutama dalam penerbitan dan pencetakan. Namun demikian telah dibuktikan dengan lahirnya bacaan yang menambah kekayaan literatur tentang Bolaang Mongondow.

Lebih dari itu, hal yang perlu disambut baik adalah Pj. Bupati Limi Mokodompit tetap memberi ruang sebagaimana yang sudah dilakukan oleh para pendahulunya, kepada pelaku-pelaku budaya terutama kepada para tetua adat di Mongondow, agar tetap terlibat dalam siklus tradisi lingkup pemerintahan daerah Bolaang Mongondow," Papar Uwin Owen Mokodongan.

Penulis: Buyung Potabuga

Rabu, 10 Mei 2023

Resmi Mendaftar, Angelia Regina Wenas Potensi Raih 1 Kursi Dapil BMR, di DPRD Provinsi

Angelia Regina Wenas
Foto: istimewa 
Srikandi Partai Demokrat Angelia Regina Wenas (ARW), resmi tercatat sebagai Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) Partai Demokrat untuk DPRD Provinsi Sulawesi Utara, pada pemilu tahun 2024 mendatang.

Perempuan berusia 29 tahun ini menjadi Bakal Calon Legislatif, Partai Demokrat dari Daerah Pemilihan (Dapil) 4 Bolaang Mongodow Raya. Yakni; Kabupaten Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Utara, Bolaang Mongondow Selatan, dan Kota Kotamobagu, seusai dirinya memasukan kelengkapan berkas melalui Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat, DPD Provinsi Sulawesi Utara, Rabu (10/5).

Meski tergolong muda, perempuan kelahiran tahun 1993 ini rupanya tidak terlalu asing dengan dunia politik. Sebab, Angelia Regina Wenas (ARW) merupakan putri politisi kenamaan almarhum Jimmy Ricard Wenas, mantan anggota DPRD kabupaten Sangihe 2 periode. Ibunya, Adelin Palar, juga merupakan mantan anggota DPRD 1 periode.

Terinspirasi dari kedua orang tuanya, ARW aktif dalam berbagai organisasi sejak masa sekolah sampai masa kuliah, ARW pernah menjabat sebagai Momo Sangihe, pada pemilihan Ungke dan Momo Sangihe 2012. Setelah lulus SMA, ARW memutuskan untuk mengambil studi S1 Fakultas Ekonomi, Program Studi Akuntansi Bisnis, di Universitas Tarumanagara (UNTAR), Jakarta Barat.

Terhitung sudah 8 Tahun ARW telah berdomisili di Desa Dodap Pantai, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), setelah 2015 silam, ia menikah dengan Kevin Sumendap, yang juga merupakan anggota DPRD kabupaten Boltim. Keduanya dikaruniai 2 orang putra.

Dengan selalu mengandalkan Tuhan, ARW pun berharap dalam perjuangan dan sosialisasi yang telah ia lakoni hingga hari ini, dirinya akan bisa mendapatkan simpati dan dukungan untuk menjadi perwakilan rakyat di DPRD Provinsi Sulawesi Utara. 

Menurut ARW ada beberapa hal yang penting untuk ia perjuangkan di DPRD Provinsi. Diantaranya terkait dengan alokasi anggaran ke wilayah BMR, dan status kejelasan izin pertambangan rakyat.

"Tak luput dari saya selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap perjuangan, pertama-tama tentu saya juga meminta doa dan dukungan dari segenap masyarakat Bolaang Mongondow Raya, untuk membantu saya dalam kontestasi politik di Pileg 2024 ini untuk DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Selain itu, menurut saya hal terpenting yang harus menjadi prioritas untuk diperjuangkan oleh anggota DPRD provinsi adalah alokasi anggaran ke dapilnya. Agar Bolaang Mongondow Raya bisa mendapatkan anggaran yang besar dari pihak provinsi. Dan terkait kebutuhan masyarakat yang berprofesi sebagai penambang lokal, mereka harus diberi kepastian hukum, dengan diberikan izin wilayah pertambangan rakyat," jelas ARW.

Selain itu, ARW mengatakan, dukungan semua pihak sangat dibutuhkan, tak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk para caleg lain yang sungguh-sungguh mau melayani sehingga golput bukanlah pilihan yang baik.

“Kalau kita membiarkan hak kita lepas begitu saja, tidak memilih orang baik, yang mau melayani dengan sungguh-sungguh, maka kita membiarkan orang jahat yang akan memimpin,” tegas ARW.

Kepada media ini, Argo Vincensius Sumaiku, Ketua DPC Partai Demokrat Boltim mengatakan, ARW diprediksi mulus ke DPRD Provinsi karena beberapa faktor, selain dia didukung oleh seluruh kader partai Demokrat di wilayah Boltim sebagai basisnya, ARW juga memiliki beberapa basis massa yang tersebar di wilayah BMR.

“Angelia sudah punya basis massa khususnya di Boltim, dan dibeberapa kabupaten kota di BMR juga ia punya massa, Ini yang menguatkan suaranya diprediksi cukup untuk membawanya ke kursi DPRD provinsi Sulawesi Utara” ujar Sumaiku.

Terpisah, Wakil Bupati Boltim, Oskar Manoppo juga memberi dukungan full terhadap Angelia Regina Wenas (ARW). Menurutnya sosok ARW yang muda tapi ia berwawasan luas. Hal itu menarik perhatian masyarakat, baik pemilih pemula maupun dewasa.

“Angelia Masih muda tapi memang dia mampu bersosialisasi dengan siapa saja. Dia sangat enjoy dan dekat dengan masyarakat. Dari 10 kursi DPRD Provinsi  Sulut, dapil BMR Angelia Regina Wenas salah satunya,” kata Oskar Manoppo. 


(Buyung Potabuga)

Angelia Regina Wenas
Saat menyerahkan berkas pendaftaran
ke Bappilu DPD Partai Demokrat Sulut.



Benny Rhamdani Dan Suara Keberanian dalam Politik Indonesia

Keberanian Menyuarakan Kebenaran di Tengah Risiko Keberanian adalah sebuah sikap yang seringkali langka ditemui, terutama dalam dunia politi...