Rabu, 26 April 2023

Dian Agriani Mamonto “Sang Petarung” Siap Munuju Kursi DPRD Boltim

Dian Agriani Mamonto
foto: istimewa

"Berkomitmen Degan Rakyat Untuk Perubahan dan Perbaikan"

Dian Agriani Mamonto, Putri kelahiran Desa Motongkad 30 Mei 1981, kembali membulatkan tekadnya untuk maju dan bertarung sebagai calon legislatif (Caleg) untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), pada pemilihan umum (Pemilu) Legislatif 2024, melalui Partai Demokrat.

Bermodalkan 700-an suara pemilih yang dia peroleh di-Pileg 2019 silam, membuat ia kembali didapuk untuk menjadi Bakal Calon Legislatif di dapil 2, yakni Kecamatan Motongkad dan Kecamatan Nuangan. 

Kepada media ini, Kamis (27/4), Dian mengatakan saat ini berbagai strategi telah ia lakukan dengan tujuan meraih simpati masyarakat, dan mendapatkan hati mereka sebagai modal untuk maju pada kontestasi pemilihan legislatif.

Ia mengaku, bahwa sebagai putri yang dibesarkan di Desa Motongkad, yang lahir dari lingkungan arus bawah tentu menyadari begitu pelik kehidupan rakyat yang jauh dari perhatian pihak pemerintah daerah. Sehingga hal tersebut memotivasi dirinya untuk memantapkan tekad maju ke bursa pemilu legislatif demi sebuah harapan sejumlah rakyat yang dititipkan padanya.

Dian Agriani Mamonto bersama
Wakil Bupati Boltim Oskar Manoppo
Anak sulung dari 3 bersaudara, putri pasangan Syafrudin Mamonto dan Hj Talha Alaydrus ini, dipastikan akan maju ke bursa legislatif 2024, mengendarai Partai Demokrat. Hal ini dikuatkan dengan komunikasi politiknya bersama beberapa tokoh utama partai demokrat di Boltim yakni Argo Sumaiku sebagai ketua DPC Partai Demokrat, dan Oskar Manoppo yang tidak lain adalah Bakal Calon Bupati yang akan diusung oleh Partai Demokrat di Pilkada 2024 mendatang. dari informasi yang berhasil dirangkum, Dian sendiri telah mengantongi nomor urut 1 dalam line-up Bacaleg partai Demokrat untuk dapil 2.

Sebagai politisi muda ia mengaku, dirinya telah memberikan diri sepenuhnya untuk berjuang demi kepentingan rakyat. Sebab menurutnya seorang calon anggota legislatif harus mempunyai komitmen untuk memperjuangkan aspirasi rakyat. 

“Komitmen itu merupakan hal terpenting. Apalagi dengan melihat kondisi sosial masyarakat khususnya di dapil 2 Motongkad dan Nuangan, tempat tanah kelahiran saya, belum begitu diperhatikan oleh pemerintah daerah. Baik itu dalam pemberian alokasi anggaran pembangunan dan bantuan, atau pengawasan untuk mencegah terjadinya praktek korupsi ditiap-tiap program pembangunan pemerintah daerah. Nah hal ini adalah tugas dan fungsi dari wakil rakyat di DPRD. Untuk memperjuangkan anggaran sebesar-besarnya dan dibawah ke dapilnya, juga mengawasi jalannya pembangunan di daerah pemilihannya,". tandas Dian.

Begitu pula, kata dia, tentang kebijakan dalam hal fungsi legislasi atau pembuatan undangan-undang di DPRD. Hal ini akan ia manfaatkan dengan betul jika ia terpilih sebagai wakil rakyat, sebab disitu ia bisa memperjuangkan hak-hak masyarakat yang berkaitan dengan undang-undang dan peraturan daerah. Sebab dalam benaknya terselip niat untuk memperjuangkan tanah-tanah HGU yang ada di wilayah dapilnya, agar bisa dikembalikan kepemilikannya secara sah ke masyarakat.

"Di desa Motongkad ada lahan HGU, dan HGU tersebut bisa dikembalikan kepada masyarakat dan disertifikasi atas nama mereka. Hal itu bisa diperjuangkan di lembaga DPRD, sebab salah satu tugas DPR itu adalah persoalan legislasi. DPRD memiliki tiga fungsi, yaitu: Legislasi, yang berkaitan dengan pembentukan peraturan daerah. Anggaran, Kewenangan dalam hal anggaran daerah (APBD), dan Pengawasan, Kewenangan mengontrol pelaksanaan perda dan peraturan lainnya serta kebijakan pemerintah daerah," urai Dian, pengusaha mandiri yang kini tercatat sebagai koordinator wilayah Indonesia Timur biro travel Umroh/haji, di PT Rihlahtul Hidayah Wisata.

Walau boleh dibilang sebagai pendatang baru, dan harus bersaing dengan rivalnya di luar partai, Dian Agriani Mamonto yang dikenal sebagai wanita petarung ini tetap merasa optimis. Bahkan dia mengatakan; untuk memperjuangkan hak-hak rakyat di DPRD, dia sudah siap dengan segala strateginya.

"Meski saya dibilang pendatang baru, tapi hal itu tak akan pernah menyurutkan niat untuk menyerah, bersaing untuk kepentingan rakyat. Dan hal itu wajar, sebab pada kontestasi politik di 2019 lalu, saya sudah mengantongi 700 lebih suara rakyat yang memilih saya. Kepada mereka itulah saya sudah memantapkan sikap, dan menanamkan dalam diri saya, agar terus berupaya untuk menjadi manusia yang memiliki manfaat bagi banyak ummat. Dengan berpolitik yang berlandaskan syariat, agar saya bisa bermanfaat bagi rakyat. Sebab amanah dari rakyat akan dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan Tuhan yang Maha Kuasa". Ucap Dian menjelaskan pedoman hidupnya.

 

Penulis: Buyung Potabuga

Dian Agriani Mamonto
Foto: Istimewa


 

x

Minggu, 16 April 2023

Kenapa Elly Lasut Selalu Disingkirkan di Medan Perang Demokrasi?

Elly Angelbert Lasut
foto: istimewa

Melawan Lupa Untuk Tahun-tahun Yang Berulang di Pilgub Sulut


"Melawan Elly Engelbert Lasut dalam pertarungan politik yang fair dalam sistem demokrasi, akan menjadi neraka bagi mereka"


DIA yang terpilih tidak akan bisa dikalahkan. Demikian kebenaran yang termaktub dalam hati rakyat Sulawesi Utara hari ini. Dan kebenaran inilah yang mengancam sejumlah besar lawan politik Elly Engelbert Lasut hari ini.

Sebagai akibatnya, kita melihat ditahun-tahun sebelumnya bagaimana Elly terus menerus dikorbankan bagi kepentingan politik mereka. Elly, pada akhirnya, menjadi monster yang paling menakutkan bagi lawan-lawan politiknya. Sekuat apapun mereka, setinggi apapun popularitas mereka, sehebat apapun strategi mereka, nama Elly selalu muncul sebagai ancaman bagi kemenangan mereka, atau jaminan bagi kekalahan mereka, dalam kontestasi politik. Melawan Elly dalam pertarungan politik yang fair dalam sistem demokrasi, akan menjadi neraka bagi mereka.

13 tahun yang lalu, pada pemilihan Gubernur Sulawesi Utara 2010, Elly adalah nama yang menggentarkan lawan-lawan politiknya di Sulawesi Utara ketika, bersama Henny Wulur, dia maju sebagai calon gubernur Sulut. Kita kemudian tahu bahwa Elly tidak pernah dikalahkan di medan perang demokrasi. Skenario politik, dalam sebuah alur yang disusun berdasarkan jaringan canggih penghancuran karir politik dengan menggunakan hukum, diterapkan secara halus. Dalam bahasa hukum, Elly ditahan, disidang, dan dipenjarakan. Dalam bahasa politik, Elly dijegal. Dalam bahasa rakyat kecil, Elly dikorbankan.

Skenario yang sama, dalam alur yang agak berbeda, kembali diterapkan lima tahun kemudian atau, tepatnya pada Pilgub 2015, Pencalonan Elly sebagai gubernur, dengan menggandeng figur dari kubu Muslim, David Bobihoe, kembali diletakkan di bawah kilatan pedang algojo hukum. Waktu itu, hukum yang digunakan adalah peraturan KPU mengenai syarat pencalonan gubernur. Pencalonan Elly-David digugurkan oleh KPUD Sulut. Artinya, Elly sekali lagi berada dalam ancaman untuk disingkirkan dari medan demokrasi. Politik sekali lagi dipecundangi atas nama aturan dan hukum.

Tanpa niat untuk menyepelekan aturan dan hukum. Kita boleh bertanya, kenapa Elly selalu disingkirkan dari medan pertarungan demokratis? Kita boleh curiga untuk banyak alasan.

Elly jelas bukan lawan yang enteng dalam perhitungan kita atas kontestasi politik hari ini dan, juga, 13 tahun yang lalu. Dia selalu muncul sebagai kekuatan yang mengancam bagi lawan-lawan politiknya, seyakin apapun mereka pada kekuatan mereka sendiri. Bahkan bagi warga yang paling awam sekalipun, Elly tidak pernah hadir dalam kontestasi politik tanpa meninggalkan kesan menarik bagi mereka.

Berbeda dari kebanyakan politisi di Sulawesi Utara hari ini, Elly adalah figur yang muncul dari mimpi masyarakat Sulawesi Utara sendiri. Mimpi yang paling ditakuti oleh para politisi “utusan pusat kekuasaan”. Elly adalah Mimpi warga Sulut untuk memiliki pemimpin yang keringatnya benar-benar berbau Sulawesi Utara. Mimpi yang hanya bisa diwujudkan oleh seorang politisi yang keluar dari kantong rakyat Sulawesi Utara sendiri, bukan politisi yang keluar dari kantong para selebriti politik di pusat-pusat kekuasaan yang jauh di sana. Dan Elly Engelbert Lasut memenuhi semua kriteria itu. 

Elly adalah anak kandung Sulawesi Utara. Politisi yang dibesarkan oleh kenangan dan harapan warga Sulawesi Utara tanpa kegenitan untuk membesarkan nama dan mencari popularitas di panggung-panggung selebritas dari luar Sulawesi Utara. Sementara kebanyakan lawan politiknya berjuang menggelembungkan popularitas mereka di ruang-ruang ber-AC di Jakarta, Elly bersedia melukai tangannya sendiri demi menyentuh rakyat Sulawesi Utara. 

Ringkasnya, Elly adalah “the choosen one” alias “yang terpilih”. Dia telah dipilih jauh sebelum pemilihan itu sendiri dilaksanakan. Kita tahu itu, masyarakat tahu itu, dan lawan-lawan Elly juga tahu itu. Dan mereka tahu betul bahwa yang terpilih tidak akan bisa dikalahkan. Dia hanya bisa disingkirkan dari pemilihan. Adapun skenario strategis bagi penyingkiran itu tidak perlu disusun baru. Mereka hanya perlu mengulang skenario yang sama yang pernah diterapkan dengan sangat berhasil pada tiga belas tahun yang lalu. Dan kita tidak boleh membiarkannya. Bukan atas nama Elly Engelbert Lasut tapi atas nama demokrasi di bumi nyiur melambai yang sama kita cintai ini. (*)

@ dari timur totabuan, tempat dimana bintang mercy bersinar.
@ boltim, 16 april 2023_ 

Sabtu, 15 April 2023

Caleg Tanpa Visi Misi, Tonton di "Birman The Movie"

 Caleg Tanpa Visi Misi
"Apa ngana pe mau itu kita pe Hobby"
Bambang Racuntikus


BIRMAN bercerita tentang dua keluarga bertetangga yang akhirnya berkonflik karena tersulut persoalan catur. Dimulai ketika Papa Nita yang diperankan Supriadi Djaenuri larut bermain catur dengan tetangganya (Papa Ladung) diperankan Enda Manggopa, lalu datang Mama Nita memanggil suaminya karena di rumah barusan tiba petugas koperasi datang menagih.
  
Konflik kedua tetangga ini kian meruncing dikarenakan perbedaan dukungan mereka terhadap Caleg dimana keluarga Papa Ladung dan Papa Nita adalah tim sukses dari Caleg berbeda. Kedua Caleg diperankan oleh Bambang Racun Tikus dan Jeldi Jels Mamonto. 

Dicky seorang pemuda yang diperankan Arthur Mokoagow, membawa benang merah cerita menjadi plot menarik dimana ia tak pernah menduga bakal terseret ke tengah konflik antar birman yang memanfaatkan kesalahannya terhadap tokoh Papa Masran (diperankan Criesh Mamonto Maduruka) dengan menyuruhnya memasang alat peraga kampanye di rumah tetangga. Tapi Dicky yang didukung teman-temannya (diperanakan Amu Mokoginta, Bowo Koagow, dan Anjas Abo Mokoagow) membuat kejutan yang tak pernah disangka.
 
Dengan seting pedesaan dalam nuansa bulan ramadan, Birman  adalah campuran drama sosial yang biasa terjadi dalam keseharian kita, dibumbui sedikit komedi.
  
Uwin Mokodongan dari Monibi Institut sekaligus penulis naskah skenario menyampaikan, film yang berdurasi sekitar 45 menit ini adalah hasil kerjasama antara TVRI Sulut dengan Monibi Institute dan Sanggar Abo Tadohe.
  
"Aktor dan aktrisnya semua orang lokal. Naskah dan skenario juga demikian. Rencananya akan tayang di stasiun TVRI Sulut pada 22 April 2023 mendatang," katanya.



Kamis, 06 April 2023

Ijtihad Politik Rahman Salehe, Menemukan PDIP Sebagai “Jalan Takdir”

Rahman Salehe
Rahman Salehe akhirnya menentukan jalan politik dengan menjadikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), sebagai kendaraan politiknya untuk maju bertarung dikontestasi pemilihan legislative 2024 nanti, menuju kursi DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Perjalanan Rahman Salehe terbilang cukup panjang, hingga akhirnya ia memutuskan untuk berlabuh ke partai banteng moncong putih itu. Rahman Salehe menyatakan bahwa PDIP adalah partai politik (Parpol) yang konsisten memperjuangkan hak rakyat. Menurutnya, hal itu menjadi alasan dasar dirinya bergabung ke PDIP. Selain itu, dalam pandangan Rahman Salehe, memantapkan sikap di PDIP adalah sebuah Ijtihad politiknya, dalam artian; sebuah usaha yang sungguh-sungguh telah ia lakukan dalam memutuskan sebuah keputusan.

Kepada media ini, Kamis (6/4), Rahman Salehe, mengungkapkan bahwa dirinya telah mempertimbangkan dan memutuskan untuk bergabung dengan Partai PDIP sebagai kehendak dirinya pribadi, dan orang banyak disekitarnya. Karena kalau hanya berdasarkan ambisi saja, Rahman Salehe menganggap hal itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri.

"Jalan panjang yang saya lewati hingga hari ini adalah ijtihad politik saya dalam mencari Partai yang sesuai dengan karakter saya. Sebab harus jujur bahwa saya adalah orang baru di dunia politik. Dan diantara Ijtihad saya itu, ada dua jalan yang Alhamdulillah telah berhasil saya lewati. yaitu Jalan ikhtiar saya, dan Jalan Takdir saya. Untuk itu hari ini saya menegaskan bahwa PDIP adalah jalan takdir bagi saya Rahman Salehe. Kedepanya bersama PDIP saya akan terus berjalan untuk menjemput takdir itu yang hanya diketahui diujung jalan nanti,” jelasnya.

Kegiatan Bagi Takjil
Saat ditanya lebih detail soal motivasinya masuk dunia politik dan mengapa
memilih PDIP? Rahman Salehe menuturkan bahwa dirinya masuk ke dunia politik merupakan salah satu jalan untuk dapat memberikan kebaikan dan pengaruh kepada masyarakat. Sebab, lewat jalur itulah seseorang dapat menjadi wakil rakyat yang bertugas membuat berbagai kebijakan yang berpihak kepada masyarakat. Dan ia percaya bahwa lewat jalur PDIP, ia bisa terpilih sebagai wakil rakyat dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebab dalam pandangan Rahman Salehe, sebagaimana karakternya yang tak berjarak dengan masyarakat, itu sejalan dengan cara-cara partai PDIP dalam hal merangkul kepentingan rakyat sampai di tingkatan paling bawah, hingga PDIP bisa dikenal dengan istilah partainya wong cilik.

"Saya melihat PDIP adalah ideologi saya sebenarnya yang sesuai dengan karakter saya. Saya merasa bahwa PDIP sangat konsisten membela dan memperjuangkan hak rakyat kecil. Sementara perbuatan baik dalam memperjuangkan masyarakat dan menjangkau masyarakat yang lebih luas adalah lewat jalur politik. Karena lewat jalur itulah kita bisa ikut dalam membuat kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, cara-cara dari PDI Perjuangan dalam mendekati masyarakat, juga menjadi salah satu faktor yang membuat saya memilih bergabung dengan PDI Perjuangan. Partai nasionalis yang menurut saya tepat dan sesuai dengan keinginan saya untuk berbuat dan berbagi dengan masyarakat," pungkas Rahman Salehe

Diketahui, Rahman Salehe resmi menjadi kader PDIP Boltim setelah Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Boltim, menerbitkan Kartu Tanda Anggota (KTA) atas namanya. Pembuatan KTA PDIP tersebut sesuai arahan ketua DPC PDIP Medy Lensun kepada Rahman Salehe saat keduanya bertemu empat mata di kediaman Medy Lensun.

Ketua DPC PDIP Boltim Medy Lensun saat dikonfirmasi mengatakan, PDIP Boltim sifatnya terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung dan bersedia membesarkan Partai. Selain itu Medy Lensun juga memastikan keanggotaan Rahman Salehe di PDIP dengan masuk di line-up bakal calon legislative dari PDIP untuk dapil 1 yakni Kecamatan Kotabunan-Tutuyan.

“PDI-Perjuangan terbuka untuk kader dan simpatisan dari berbagai kalangan, Politisi, pengusaha, aktivis, wartawan dan semua yang punya passion untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan juga membesarkan partai di Boltim. Dan Rahman Salehe statusnya saat ini sudah masuk lineup caleg dapil 1,” terang Medy Lensun.


Penulis: Buyung Potabuga

Foto: Istimewa


Farok Disi Siap Tarung ke DPRD Boltim

Farok Disi

Mendekati Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024 mendatang, sejumlah figur mulai bermunculan dan menyatakan diri siap untuk bertarung merebut kursi anggota DPRD Bolaang 
Mongondow Timur (Boltim).

Salah satu yang mencuat, ada nama Farok Disi yang siap bertarung dalam Pileg 2024 mendatang. Sebelumnya Farok Disi adalah Anggota Intel Polres Kotamobagu, dan mantan anggota tim opsnal satuan reskrim Polsek Kotamobagu dengan pangkat AIPDA. Alih-alih terus meniti karier, Farok Disi justru ikhlas pensiun dini. Menjadi pengusaha dan kini memilih untuk bertarung dikontestasi politik 2024 mendatang, menuju kursi DPRD Kabupaten Boltim.

Farok Disi sebagai Figur potensial yang kini berprofesi sebagai pengusaha, mulai dilirik warga dan partai politik. Pasalnya, selain dekat dengan masyarakat, Farok Disi  dinilai memiliki rekam pergaulan yang sangat baik di tengah masyarakat. Dengan demikian Farok Disi dianggap bisa memiliki kapasitas dalam menduduki jabatan-jabatan publik, termasuk sangat layak menjadi wakil rakyat, karena rajin membantu warga masyarakat dilingkunganya.

Selain itu,  Farok Disi juga kenal sosok pekerja keras dan rendah hati, dan punya jiwa sosial tinggi. Ia mampu membaur dengan rakyat kecil sekaligus menarik simpati mereka. Meski pendatang baru di jagad politik Boltim, Farok Disi terpanggil terjun sebagai politisi. Ia memiliki jiwa petarung dengan memilih Partai Demokrat, yang notabene di luar pemerintahan saat ini untuk perahu perjuangannya. Ia hendak membuktikan bahwa bukan hanya para petahana yang bisa meraih simpati rakyat, dan berpeluang memenangkan hati mayoritas masyarakat di dapil 3 kecamatan Modayag Barat, Modayag dan Mooat.

Farok Disi bersama
Ketua DPC PD Boltim Argo Sumaiku
“Niatan saya maju ke DPRD Boltim 2024 sebagai bentuk pemberian diri untuk membangun Kabupaten Boltim lewat DPRD, dengan cara membawa setiap aspirasi dari warga untuk dibahas diparlemen sebagai bahan rumusan yang akan diperjuangkan dalam setiap rapat di DPRD sehingga menghasilkan sebuah kebijakan yang diinginkan masyarakat. Bukan malah sebaliknya hanya menjadi wakil rakyat pengekor pada yang berkuasa,” ungkap Farok Disi.

Lebih lanjut, menurut Farok Disi, sangat penting memiliki anggota wakil rakyat yang memiliki daya juang yang tangguh serta mampu bersuara sebagai seorang legislator ketika sedang membahas peraturan perundang-undangan, penganggaran dan pengawasan sehingga dapat mempengaruhi sebuah kebijakan yang berdaya guna bagi kepentingan rakyat.

“Memilih wakil rakyat itu harus yang berani dan mampu bicara untuk kepentingan rakyat, sebab DPRD sebagai lembaga legislatif adalah perwakilan masyarakat  yang memiliki tugas untuk mengawasi jalannya pemerintahan, terkait dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah (eksekutif). Sebab eksekutif sebagai pelaksana undang-undang memang harus mendapatkan pengawasan. Karena jika pemerintah tidak mendapatkan pengawasan, akan memungkinkan munculnya penyalahgunaan wewenang. Hal ini banyak kali terjadi.” Jelas Farok Disi.

 

Penulis: Buyung Potabuga

Selasa, 04 April 2023

Menjawab Soalan Gelar BOGANI Ki LIMI

Tangoi Noisimpuloi
foto; Chairun Mokoginta,
sumber: internet
, Kriteria, Hingga Gelar Bogani (bag. 1)

(Dalam Pandangan Budayawan Chairun Mokoginta)


Dalam Budaya Bolaang mongondow gelar itu sama dengan Nama, yang dalam bahasa daerah Bolaang Mongondow disebut Tangoi. Adapun dalam artian etimologi nama atau tangoi  itu terbagi dalam tiga bagian. Pertama yang disebut dengan Tangoi Noitombuloi artinya Nama yang terpatri selamanya, Tangoi Noidonoi artinya nama yang menempel, dan Tangoi Noisimpuloi yang berati nama yang melilit.

Sedangkan dalam pemaknaanya Tangoi Notoimbuloi itu berarti nama yang dibawah sampai mati, dan nama yang hanya bisa berubah kecuali atas kemauan sendiri. Tangoi Noidonoi adalah nama yang suatu waktu bisa berubah, contohnya jika seseorang laki-laki yang sudah menikah kemudian punya anak, dalam budaya Mongondow, nama lelaki tersebut akan dipangil dengan sebutan mengunakan nama anaknya untuk ditempelkan pada panggilanya sebagai bapak. Contohnya nama pemanggilan atas namaya akan berubah menjadi Papa Fulan (ayah dari fulan) misalnya. Adapun Tangoi Noisimpuloi dalam filosofinya, adalah  yang disebut Gelar.

Menurut Chairun Mokoginta, gelar dalam makna filosofinya berarti; sebuah nama yang secara serta merta telah melilit atau membungkus diri seseorang, juga menjadi perombak dalam status social orang tersebut. Gelar dapat diperoleh dengan dua cara, pertama; Gelar yang melilit, membungkus seseorang karena darah dan keturunanya yang tidak terputus dari leluhur. Dan yang kedua; Gelar yang diberikan kepada seseorang. Contohnya Gelar Sangadi (sebutan bagi kepala desa), kelak ketika seseorang tersebut bukan lagi Kepala Desa, maka dia bukan lagi dipanggil sebagai Sangadi.  

BOGANI

Proses penyematan Gelar Bogani
oleh Chairun Mokoginta
Bogani secara etimologi berarti Api. Lalu bagaimana sampai ada penyebutan Bogani?,
Menurut Budayawan Chairun Mokoginta, didalam tradisi orang Mongondow mula-mula, Bogani adalah gelar yang pertama dan yang tertua dalam sejarah manusia Bolaang Mongondow. Dalam penyematan Gelar Bogani, dahulunya hal itu harus melewati sebuah proses panjang dalam memilih seorang pemimpin yang akan di sebut seorang Bogani. Proses tersebut dimulai dengan sebuah ritual yang dinamakan Motayok. Motayok adalah sebuah ritual yang digunakan untuk meminta bantuan leluhur. Ritual Motayok ini sudah dilakukan dizaman ribuan tahun sebelum masa punu’/raja.

Lebih lanjut, Chairun Mokoginta menjelaskan, dalam sebuah proses penyematan Gelar Bogani di masa lampau, itu dimulai dri sebuah proses pengkaderan. Yaitu ada sekelompok laki-laki dan perempuan yang akan terus dilatih. Pertama, para kader yang di persiapkan untuk mendapatkan gelar Bogani tersebut, mereka akan  diperkenalkan terlebih duhulu tentang ilmu dasar tata cara mempersiapkan sebuah ritual yang disebut Ritual Mogibol, dan segalamacam bahan-bahan perlengkapan yang harus di persiapkan dalam ritual tersebut. Ketika mereka terlihat sudah menguasai ilmu dasar Ritual Mogibol, kemudian prosesnya meningkat lagi, dan mereka akan disebut Posindogon. Posindogon itu adalah sebuah proses pengkaderan sebelum dia menjadi Bolian. Saat prosesi Posindogon, para kader tersebut masih didamping oleh tokoh-tokoh adat, ketika dia sudah dianggap lulus, baru kemudian naik satu tingkat lagi, sehingga seseorang tersebut sudah bisa disebut sebagai Bolian. Bolian berarti orang yang sudah bisa melakukan proses ritual sendiri.

Setelah menjadi Bolian, mereka sudah mulai masuk pada kemampuan supranatural, kemudian ilmu-ilmu supranatural sudah mulai ditanamkan kepada mereka. Setelah menjadi Bolian, proses para kader itu meningkat lagi menjadi Burangin. Burangin adalah para kader yang sudah menguasai tradisi dan kemampuan supranatural yang super. Dan pada puncaknya dari sekian banyak kader yang telah menjadi seorang Burangin, lalu mereka akan saling diadu, untuk mendapatkan pemenang yang mempunyai keterampilan supranartural yang paling hebat, hingga muncul satu orang saja yang terhebat diantara mereka. Makanya dari sekian banyak Burangin, ada satu yang dipilih sebagai pemimpin dari Burangin. Seorang yang tak terkalahkan diantara Burangin itu, diangkatlah dia sebagai seorang dengan Gelar BOGANI. Jelas Chairun Mokoginta. 


KRITERIA MENJADI BOGANI

Bogani Ki Limi dan Boki' Ki Iryanti 
Dalam proses pengkaderan mulai dari posindogon, menjadi bolian, menjadi burangin, kemudian menjadi Bogani, itu ada kriteria yang menjadi syaratnya yang harus dipenuhi. Syarat atau kriterianya tersebut, dalam pandangan Chairun Mokoginta, pertama; seseorang tersebut harus  sehat jasmani dan rohani, berjiwa patriotisme, punya sikap pemberani dan menjadi simbol kekuatan dan ketegasan. Sehingga ketika orang-orang menyebut Bogani, langsung terbayang seorang yang tinggi, besar, dan kuat. Seorang yang merangkum seluruh kriteria itu dalam dirinya, orang tersebut akan disebut MOKODATOL, artinya mampu untuk menjadi Tumpuan. Dimana jiwa patriotismenya akan mampu menjaga wilayah Totabuan sebagaiman hal ini ada dalam Toibag; Lolaki Mosalendangan, Bogani Pinonangoiyan, Pinonisi’ Kon Totabuan, (Seorang lelaki yang berwibawah, seorang Bogani yang ternama, menjaga tanah totabuan).

Lebih lanjut, Kriteria yang kedua adalah; yang disebut MOKORAKUP. Secara etimologi Mokorakup artinya mampu menggenggam dalam satu tangan, tapi secara filosofi mokorakup berarti seseorang yang mampu mengayomi seluruh anggota masyarakat dalam segala kebutuhanya. Dalam artian yang luas Mokorakup adalah kemampuan mensejahterakan masyarakat. Sebab Leluhur Bolaang Mongondow dalam mengartikan bahasa, mereka tidak menerjemahkan sesuatu bahasa berdasarkan pada makna etimologi, tapi selalu pada makna fhilosofi. Sebut Chairun Mokoginta.

Sedangkan kriteria yang ketiga adalah yang disebut MOKODIA. Mokodia dalam pemaknaanya adalah seseorang yang mampu menerapkan berbagai ketentuan agar masyarakat itu bisa aman. Ketentuan tersebut berupa sangsi-sangsi adat. Dan seseorang yang disebut Mokodia itu adalah, ketika ia sudah mampu menerapkan aturan-aturan tersebut kepada semua kelompok masyarakatnya tanpa terkecuali.

Kriteria yang ke-empat adalah seseorang yang disebut MOKOANGA’. Padanan kata yang setara dengan kata mokoanga’ adalah seseorang yang mampu menarik simpati banyak orang. Mokoanga’ juga dalam pemaknaanya disini terbagi dalam dua hal. Pertama Mokoanga’ dalam hal prilaku, mental, dan seseorang yang tidak tercelah. Yang kedua adalah Mokoanga’ dalam penampilan fisik. Oleh sebab itu para Bogani juga  dalam tampilan berpakaian, mereka selalu tampil berbeda dan berwibawah.

Kesimpulanya, Chairun Mokoginta dalam sebuah penelitiannya, menjelaskan bahwa ke-empat kriteria tersebut diatas, masih sangat relefan untuk dipakai dizaman sekarang ini. Empat kriteria itulah yang membentuk seorang menjadi Bogani. Oleh sebab itu, Bogani itu adalah sebuah gelar yang super dan komprehensif. Dari seluruh gelar yang pernah ada dalam sejarah orang Mongondow, Bogani adalah gelar yang paling tinggi. Tutur Chairun Mokoginta.

Penulis: Buyung Potabuga

Benny Rhamdani Dan Suara Keberanian dalam Politik Indonesia

Keberanian Menyuarakan Kebenaran di Tengah Risiko Keberanian adalah sebuah sikap yang seringkali langka ditemui, terutama dalam dunia politi...