Sabtu, 09 Desember 2023

4 SKETSA KATA TENTANG FERAMITHA

foto istimewa: Feramitha Tiffany Mokodompit, SM.MBA
Feramitha Tiffany Mokodompit bukan hanya sebuah nama. Juga bukan semata janji. Feramitha adalah politisi muda yang sedang dipersembahkan rakyat Bolaang Mongondow Raya pada Sulawesi Utara dan, kelak nanti, Indonesia.

Maju dalam pertarungan menduduki kursi dewan rakyat Sulawesi Utara dari kantong Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dengan basis Bolmong Raya, Feramitha menjadi catatan utama dalam lingkup partai politik maupun dalam ingatan rakyat Bolmong. Catatan tentang politisi perempuan muda progresif.

SKETSA KE 4

Politisi Perempuan Muda PROGRESIF

Progresivitas adalah kata mati dalam kamus hidup Feramitha. Dalam hal ini, progresivitas berarti langkah maju tanpa kompromi. Lebih dari suatu keharusan sejarah yang tidak tertolak atau sasaran yang padanya kita menuju, kemajuan juga merupakan bahasa politik Feramitha.

Progresivitas tentu bukan sesuatu yang banyak diserukan Feramitha secara harafiah tapi sesuatu yang hidup di dalam kepala dan dadanya secara apa adanya. Sedemikian sehingga apapun yang dia lakukan bisa dibaca sebagai sebuah langkah maju atau, setidaknya, sebuah upaya untuk maju.

Tapi kita tidak bisa menerakan cap progresif pada Feramitha jika kemajuan itu tidak dia perjuangkan lebih dari kemajuan diri dan kelompoknya. Jika kemajuan itu tidak menyentuh harkat hidup orang banyak, publik atau, dalam bahasa yang lebih politis hari ini, rakyat.

Pada titik ujian inilah Feramitha mengajukan dirinya sebagai calon legislatif pada DPRD Provinsi Sulawesi Utara dari daerah pemilihan Bolaang Mongondow Raya. Dia ingin melanjutkan langkahnya sebagai aktivis-politisi-pejuang perempuan muda dengan tekad memajukan rakyatnya di kursi dewan rakyat Sulut.

Feramitha sudah melangkah maju, tinggal rakyat Bolaang Mongondow Raya yang akan menentukan apakah mereka ingin ikut maju atau masih ingin menanti.

Akhir Kata

Ingat, Feramitha dan semua yang dia pikul di kedua pundaknya, bukan hanya tesa bagi politik Indonesia, khususnya Sulut dan lebih khusus Bolmong, di hari hari belakangan ini, tapi juga anti-tesa bagi segala sesuatu yang sudah terlanjur keliru dalam sistem sosial-politik kita.

Feramitha Tiffani Mokodompit adalah politisi perempuan muda progresif yang membawa janji, regenerasi, harapan dan proses politik ke arah kemajuan. Tak ada yang berlebihan dalam ungkapan itu karena kita, sebagai sebuah bangsa besar, tidak akan pernah maju dengan kapal yang kecil.

Dan, dengan kursi yang akan dia duduki di dewan rakyat nanti, Bolaang Mongondow Raya akan menjadi bagian penting yang hendak dihidupi Feramitha di dalam kapal besar itu.

Percayalah.

 

Bulawan, Desember 2023

Jumat, 08 Desember 2023

4 SKETSA KATA TENTANG FERAMITHA

foto istimewa: Feramitha Tiffany Moodompit, SM.MBA
Feramitha Tiffany Mokodompit bukan hanya sebuah nama. Juga bukan semata janji. Feramitha adalah politisi muda yang sedang dipersembahkan rakyat Bolaang Mongondow Raya pada Sulawesi Utara dan, kelak nanti, Indonesia.

Maju dalam pertarungan menduduki kursi dewan rakyat Sulawesi Utara dari kantong Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dengan basis Bolmong Raya, Feramitha menjadi catatan utama dalam lingkup partai politik maupun dalam ingatan rakyat Bolmong. Catatan tentang politisi perempuan muda progresif.

SKETSA KE TIGA

Politisi Perempuan MUDA Progresif

Di dunia politik, kita boleh menyebut Feramitha sebagai anak baru. Dan ungkapan itu membayangkan kita pada analisis tentang sebuah generasi baru di dunia politik Indonesia. Riuh rendah kehadiran kaum muda dengan latar yang jauh lebih pragmatis tapi sekaligus dengan jejak kesadaran baru yang nyaris tak tertandingi dalam sejarah bangsa ini.

Abad 21 adalah rahim bagi Feramitha dan para politisi muda itu. PDIP Sulut sendiri telah menjadi salah satu kantong yang berhasil menumpukan kekuatannya pada para anak muda ini. Bahkan sejak kehadiran mereka di masa reformasi. Di lingkup Sulawesi Utara, kita boleh mencatat banyak nama seperti Andre Angouw, Joune Ganda atau Rocky Wowor.

Di luar PDIP sendiri ada banyak nama lainnya juga. Bahkan, lepas dari suka tak suka, kita tahu ada yang namanya partai kaum muda. Dan itu semua menunjukkan pada kita bahwa regenerasi, setidaknya pada era ini, telah menjadi kodrat yang makin sulit dihalangi.

Tapi entah sebagai kodrat, entah sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan, usia muda dilakoni Feramitha sebagai semangat perubahan dan, jika perlu, perlawanan. Alam konteks kemudaannya, Feramitha menampilkan dirinya bukan hanya dalam simbol simbol formal seperti jabatan ketua KNPI tapi juga dalam marka kultur sebuah generasi yang jumbuh dengan keberadaannya. Feramitha adalah nama bagi satu generasi politisi muda yang bergerak dengan semboyan “yang muda yang memimpin.” Dan dia serius dalam hal ini.

Tapi sejak awal perlu diingat, generasi Feramitha adalah generasi baru dengan kesadaran yang tidak bisa diperbandingkan secara acak adul dengan kesadaran generasi muda manapun dalam sejarah kita sendiri. Mereka, misalnya, tak lagi mengenal pembelahan biner seperti Timur-Barat, Hitam-Putih, Lelaki-Perempuan dan seterusnya. Termasuk sistem biner ideologis-pragmatis.

Pada Feramitha dan generasinya (yang sadar saja) sejarah dilakoni sebagai serbuan informasi yang harus diterima dalam bingkai “pasca-kebenaran” yang serba membingungkan itu. Dalam bingkai ini, Feramitha memainkan pragmatisme politik kisi kisi yang dengannya ideologi berbangsa dan bernegara mengambil posisinya. Sesuatu yang sebelumnya mungkin tak pernah kita kenal.

Tapi tulisan ini yakin, Feramitha mampu melakoninya.

bersambung.....

 

4 SKETSA KATA TENTANG FERAMITHA

foto istimewa: Feramitha Tiffany Mokodompit, SM.MBA
Feramitha Tiffany Mokodompit bukan hanya sebuah nama. Juga bukan semata janji. Feramitha adalah politisi muda yang sedang dipersembahkan rakyat Bolaang Mongondow Raya pada Sulawesi Utara dan, kelak nanti, Indonesia.

Maju dalam pertarungan menduduki kursi dewan rakyat Sulawesi Utara dari kantong Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dengan basis Bolmong Raya, Feramitha menjadi catatan utama dalam lingkup partai politik maupun dalam ingatan rakyat Bolmong. Catatan tentang politisi perempuan muda progresif. 


SKETSA KE DUA

Politisi PEREMPUAN Muda Progresif

Perempuan sudah ada dalam tradisi politik Bolaang Mongondow Raya, bahkan sejak zaman klasik. Kita mengenal nama Inde Dou dan beberapa “aktivis- politisi-pejuang” perempuan lainnya. Di era reformasi, lebih banyak lagi nama dan figur perempuan yang muncul.

Maka, dalam kerangka itu, Feramitha bukan sebuah keistimewaan. Tapi dalam cara yang sama, rakyat Bolmong Raya bisa melihat caleg DPRD Sulut dari PDIP ini sebagai sebuah kelanjutan tradisi yang wajib dipertahankan. Tapi kenapa harus Feramitha?

Dalam karakterisasi historis perempuan aktvis-politisi-pejuang, jauh dari semata menjemput sejarah, Feramitha juga menciptakannya dengan sadar. Kita boleh bicara tentang keberuntungan posisi sosialnya sebagai warga kelas menengah dan putri seorang pejabat.

Tapi Feramitha tidak menyeret “keberuntungan” itu dengan langkah lenggang kangkung. Dia menapakinya dengan prestasi yang terarah pada penciptaan sebuah sejarah baru atau, untuk menghindari kesan bombastis, Feramitha ingin menulis biografinya dalam kerangka sejarah para perempuan aktivis-politisi-pejuang Bolaang Mongondow Raya dari, katakanlah, Inde Dou hingga dirinya sendiri.

Lalu bagaimana Feramitha melihat peran perempuan dalam kerangka politik masa kini? Kita boleh mendengar itu langsung dari mulutnya tapi tulisan ini ingin menuliskannya lewat pembacaan atas kiprahnya hingga saat ini. dan jawaban atas pertanyaan itu adalah sebentuk cara progresif.

Perempuan, yang diwakili oleh tubuh individual dan sosial Feramitha sendiri, hadir sebagai perlawanan atas kerkah patriarki sistemik dalam kehidupan sosial dan politik Indonesia hari ini. dalam cara yang khas milenial, Feramitha mengajukan perlawanan itu lewat pergerakan tubuh individual perempuannya ke pusat sistem politik kita.

Pergerakan ini sangat mungkin akan membuka jalan pada pergerakan tubuh sosial perempuan Bolmong untuk menuju pusat. Dalam hal ini, Feramitha adalah sekaligus juga gugatan pada kiprah individual perempuan politisi Bolmong saat ini yang tampaknya tak cukup menciptakan peluang bagi sesama perempuan.

Feramitha hadir untuk mengubah itu.

Bersambung....

Kamis, 07 Desember 2023

4 SKETSA KATA TENTANG FERAMITHA

foto istimewa: Feramitha Tiffany Mokodompit
Feramitha Tiffany Mokodompit bukan hanya sebuah nama. Juga bukan semata janji. Feramitha adalah politisi muda yang sedang dipersembahkan rakyat Bolaang Mongondow Raya pada Sulawesi Utara dan, kelak nanti, Indonesia.

Maju dalam pertarungan menduduki kursi dewan rakyat Sulawesi Utara dari kantong Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dengan basis Bolmong Raya, Feramitha menjadi catatan utama dalam lingkup partai politik maupun dalam ingatan rakyat Bolaang Mongondow Raya. Catatan tentang politisi perempuan muda progresif.

Sketsa Pertama

Feramitha POLITISI Perempuan Muda Progresif

Sebagai politisi, Feramitha Tiffany Mokodompit adalah wajah baru. Itu artinya harapan, termasuk janji dan apa yang selalu kita sebut sebagai regenerasi. Politik dengan janji tanpa regenerasi bisa berarti omong kosong sepanjang jalan. Politik dengan regenerasi tanpa janji, tak pernah bisa dianggap serius.

Feramitha memikul keduanya – janji dan regenerasi – di satu pundak yang sama. Adapun pundaknya yang lain digunakan untuk memikul harapan dan, tentu saja, beratnya proses politik baginya sebagai perempuan, anak muda, dan seseorang dengan gagasan progresif.

Kita tidak akan bicara soal kedua pundak Feramitha itu, kita akan bicara soal bagaimana dia menghidupkan dialektika janji dan regenerasi di satu pundaknya, serta harapan dan proses politik di pundaknya yang lain. Juga, bagaimana itu mungkin baginya sebagai seorang politisi.

Semua itu dimulai dari biografi Feramitha sebagai anak perempuan dengan DNA politisi-birokrat yang diwariskan bapaknya, Limi Mokodompit. Pada sang putri bungsu ini, DNA kombinasi itu diberi makna yang jauh lebih progresif dalam kerangka milenial.

Politisi, dalam tafsir positif Feramitha dan generasinya, harus dikembalikan pada figurasi negarawan dalam bahasa politik modern dengan kecanggihan memanfaatkan informasi ala generasi gadget dan google. Dalam tafsir ini, citra politisi yang cenderung negatif pada kaum muda hendak dipermak dengan menggunakan logika generasi mereka.

Adapun birokrat, yang tak jarang memikul citra yang bisa jauh lebih negatif lagi, diberi tafsir positif hingga bermakna pekerja negara dengan kecanggihan teknis administratif. Dalam tafsir ini, birokrat berarti figur dengan kemampuan mengatur jalannya roda pemerintahan sesuai yang direncanakan.

Adapun tafsir tafsir itu, dalam biografi Feramitha, hadir lewat kiprahnya di sepanjang hayat hingga hari ini. Pada puncak dialektika DNA dan tafsirnya itu, Feramitha menduduki jabatan ketua DPD KNPI Bolaan Mongondow dan calon legislatif PDIP untuk dewan rakyat Sulawesi Utara.

Paduan figur politisi sebagai negarawan dan birokrat sebagai teknisi pemerintahan adalah apa yang akan diberikan rakyat Bolaang Mongondow Raya pada Sulawesi Utara dan Indonesia lewat Feramitha Tiffani Mokodompit. Itulah juga paduan dialektis antara janji dan regenerasi yang dipikul Feramitha.

Dengan DNA politisi-birokrat, Feramitha memikul janji. Dengan tafsir negarawan pekerja, dia memikul regenerasi. Keduanya adalah langkah dialektis yang akan memungkinkan dialektika harapan dan proses politik pada satu orang Feramitha.

Bersambung...

Minggu, 24 September 2023

Kalu Suka, Sehan Jo!

Sehan S Landjar, SH.
Calon Anggota DPR-RI Dapil Sulut

Ihwal Suka Ria, dan Suka-Suka Sehan S. Landjar SH

"Di tengah lorong gelap yang terasa panjang, dalam mencari dan menimbang-nimbang wakil rakyat yang pantas untuk mewakili Sulawesi Utara di DPR RI,  Sehan S Landjar, SH menjadi salah satu yang perlu ditimbang dan menjadi pilihan." 

Tak hanya itu, Sehan S Landjar juga adalah sebuah harapan. Kehadiranya menggarisbawahi fakta bahwa di tengah “buruk rupa wajah wakil rakyat” selalu saja tersedia harapan. Dan harapan itu bernama Sehan Landjar.

Tak terkecuali di Sulawesi Utara, di Bolaang Mongondow Raya, kita seakan berhenti di garis takdir sejarah kehidupan lama, bahwa semua pemimpin daerah, wakil rakyat di DPR, bahkan pemimpin negeri ini, harus dari keturunan darah biru atau mininmal anak dari pejabat tinggi atau juga konglomerat. 

Hal tersebut tidak berlaku pada mantan bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sehan Landjar. Ia memulai semua yang pernah diraihnya sampai hari ini, dari kehidupan keluarga kecil dan sederhana. Ia berusaha sendiri dari nol sampai menjadi mandiri. Atas kegigihan dan kerja keras, kendaraan nasib telah mengantarkannya ke kursi DPRD di Kabupaten Gorontalo pada periode 2004-2009, dan juga menjadi Bupati Boltim selama dua periode (2010-2015 dan 2016-2021). Bukan karena harta atau citra, tapi karena kerja dan ketulusan Sehan Landjar berbagi dengan rakyat kecil.

Sehan S Landjar mengajarkan kita untuk jujur, sederhana, dan berbagi apa adanya. Di lain sisi ia juga memberikan kita contoh untuk berjuang bagi semua orang. Menjadi orang baik itu memang sangat berat bagi Sehan Landjar, di tengah orang-orang yang menentangnya, mencurigai, menfitnah, tapi bagi Sehan, kebaikanlah yang selalu menang di akhir sebuah bagian episode hidup.

Dari semua pencapaian Sehan Landjar, seolah ia telah menunjukkan pada kita, bahwa siapapun bisa menjadi apapun yang diinginkannya. Sehan memiliki tujuan hidup untuk mengabdi, dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Ia bak anak panah zaman, dan menjadi cahaya peradaban. Ia sosok manusia yang bermodalkan kerendahan hati, dan senantiasa tersenyum dalam keadaan apapun. 

Negeri ini memang memerlukan gaya kepemimpinan seperti yang di contohkan Sehan Landjar. Yang menjadikan jabatan sebagai milik rakyat, sehingga segala kebijakannya untuk kebaikan rakyat. 

Bagi Sehan “Memimpin adalah menderita,”. Menderita bukan berarti masuk penjara, karena saat ini pemimpin (pusat dan daerah) masuk penjara karena korupsi. Menderita bisa di pahami sebagai kepekaan pemimpin terhadap penderitaan rakyatnya.

Pemimpin seperti ini sensitif atas keluhan, suara hati, dan beratnya hidup yang di tanggung oleh rakyatnya. Selama kepemimpinan Sehan saat menjadi Bupati di Boltim dalam dua periode, ia membuat kebijakan bukan untuk menyingkirkan atau menzholimi juga memperkaya diri, tapi memberikan jalan keluar bagi setiap persoalan pemerintah dan rakyat. Yang memanusiakan. Adakah pemimpin seperti itu di negeri ini? Langka, tentu saja.

Tapi, banyak dari kita sepakat, bahwa Sehan Landjar, adalah pemimpin yang seperti itu. Ia seakan oase di tengah krisis kepemimpinan di negeri ini. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menyadari bahwa jabatan yang diembannya sebagai milik rakyat.

Belajar darinya, bahwa kebijaksanaan tidak lagi merupakan kebijaksanaan apabila ia menjadi terlalu angkuh untuk menangis, terlalu serius untuk tertawa, dan terlalu egois untuk melihat yang lain kecuali diri mereka sendiri. 

Kembali ke Sehan Landjar ketika di tanya soalan sikapnya untuk maju ke DPR RI dapil Sulawesi Utara? Sederhana dia menjawab. “Kursi wakil rakyat adalah milik rakyat. Rakyatlah yang berkepentingan bukan saya. Jika menurut rakyat saya tidak membawa manfaat silahkan memilih calon wakil rakyat lain yang menurutnya bermanfaat. Namun jika menurut rakyat, saya membawa manfaat bagi kebanyakan rakyat, maka biarlah rakyat pula yang mencalonkan saya,” tutur Sehan. 

Memang sungguh Sehan tidak hanya telah mendatangi pintu rumah setiap rakyat. Tetapi Sehan Landjar telah mengunjungi segenap hati dan sanubari rakyat di Sulawesi Utara.

“Kalu Suka, Sehan Jo!” ucap Sehan S Landjar, SH.

Penulis: Buyung Potabuga.

Minggu, 21 Mei 2023

Apresiasi, Kritik dan Saran, Kebangkitan Adat Budaya dalam 1 Tahun Kepemerintahan Bupati Limi Mokodompit

Satu tahun kepemerintahan PJ Bupati Ir Limi Mokodompit, MM, patut diberi apresiasi karena menjadi penanda kebangkitan adat dan budaya sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat adat, para pemangku kebudayaan, dan pegiat budaya di Kabupaten Bolaang Mongondow.

Ir Limi Mokodompit yang turut disematkan padanya gelar Bogani, dinilai mampu dan berhasil menjadi tumpuan kebangkitan Adat dan Kebudayaan Bolaang Mongondow. Namun dalam hal tersebut, selain apresiasi satu tahun kepemerintahan PJ Bupati Limi Mokodompit, juga tak luput dari kritik dan saran dari budayawan, dan para pegiat budaya di Bolaang Mongondow.

Diwawancarai, Senin (22/5) Budayawan senior Chairun Mokoginta mengatakan, PJ Bupati Limi Mokodompit berhasil mendorong dan memotivasi para para pemangku kebudayaan untuk menegakkan kembali adat dan budaya dan menjaga kesakralannya.

"Dalam hal pemajuan adat dan kebudayaan di Bolaang Mongondow kurun waktu satu tahun masa jabatan Pj. Bupati Bogani Ir. Limi Mokodompit MM. Menurut pengamatan kami pada umumnya berjalan dengan baik sesuai harapan masyarakat adat Bolaang Mongondow. Dengan adanya dukungan penuh pemerintah dalam berbagai aktivitas masyarakat di bidang adat dan budaya mampu mendorong semangat para pemangku kebudayaan di Bolaang Mongondow untuk menggali, mengembangkan, memberdayakan dan melestarikan adat dan budaya Bolaang Mongondow. Pj. Bupati Bolaang Mongondow Bogani Ir. Limi Mokodompit berpesan kepada kami dengan berbahasa mongondow _'Mobuipa posindogon adat bo budaya Bolaang Mongondow ba' mosakralpa'_ Pesan luhur penuh makna yang diucapkan oleh seorang pemimpin mengabarkan bahwa Pj.Bupati Bolaang Mongondow Bogani Ir. Limi Mokodompit Cinta tanah kelahiran Totabuan dengan adat istiadat dan budaya nya yang hingga sekarang masih tetap dipertahankan dan dipatuhi oleh masyarakat Bolaang Mongondow," ujarnya.

Lebih lanjut, sebagai saran, Chairun Mokoginta meminta agar pihak pemerintah kabupaten Bolaang Mongondow dimasa kepemimpinan Bogani Ki Limi kedepan setelah di perpanjang masa jabatannya sebagai PJ Bupati Bolmong agar segera membentuk Perda adat dan Dewan Adat.

"Harapan saya kedepan sebagai budayawan mengusulkan agar dibentuk Dewan Adat secara berjenjang dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan dan kabupaten serta Peraturan Daerah (PERDA) tentang Dewan Adat untuk mendukung program pemajuan adat dan budaya di Bolaang Mongondow," kata Mokoginta.

Terpisah, kritik dan saran juga di tuturkan oleh Uwin Owen Mokodongan selaku direktur Monibi Institut.

Menurut Uwin yang menjadi catatan penting bagi pemerintah Bolaang Mongondow adalah memperhatikan program kegiatan dari dinas terkait, mendukung gerakan pelestarian bidang kebudayaan, dan membangun tugu sebagai pengingat peristiwa-peristiwa bersejarah.

"Geliat pembangunan bidang adat, tradisi, dan kebudayaan di Bolmong dalam rentang waktu setahun kepemimpinan Pj. Bupati Limi Mokodompit, tentu waktu ini sangat singkat jika dijadikan sandaran pengamatan pun penilaian. Kecuali itu, ada beberapa catatan yang menjadi penting untuk diperhatikan yakni pertama, program kegiatan dari dinas terkait. Disbudpar misalnya yang sebenarnya memiliki keterkaitan dengan Bappeda dan DLH karena kemarin itu sudah ada dokumen Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten atau disebut Ripparkab yang merupakan dokumen perencanaan pembangunan kepariwisataan Daerah Kabupaten (Bolmong) untuk periode 5 (lima) tahun. Hal ini erat kaitan dengan kebudayaan tentunya, sebut saja beberapa situs budaya di Bolaang Mongondow yang perlu diperhatikan termasuk melestarikan ritus yang sebenarnya masih hidup di masyarakat kita, contohnya di wilayah Dumoga seperti di Siniyung dan Tudu Bumbungon yang merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan. Belum lagi di Bilalang, juga beberapa daerah lainnya. Disbudpar Bolmong mengacu saja di dokumen Ripparkab itu selain melibatkan sejumlah elemen dan komintas budaya yang ada.

Kedua, pemerintah tentu penting mendukung gerakan pelestarian bidang kebudayaan yang kini dilakoni sejumlah elemen meliputi lembaga maupun komunitas budaya. Kegiatan festival budaya misalnya, ini penting dilaksanakan selain merupakan perayaan atas kebudayaan yang ada di daerah ini. Boltim misalnya yang sukses dengan perayaan kebudayaan dalam bentuk festival.

Ketiga, adalah soal pembangunan tugu. Mengapa ini penting? sebab kita memang membutuhkan penanda meliputi sejarah dan kebudayaan. Ini sekaligus merupakan pengingat peristiwa-peristiwa bersejarah. Saya mau kasih contoh misalnya pembangunan tugu pertemuan antara Raja Bolaang Mongondow dan Diego de Magalhaes di pesisir Bolaang. Ini terjadi di tahun 1563 sebagaimana catatan pelaku sejarah itu sendiri yakni Diego de Magelhaes orang Spanyol yang bekerja pada ordo Jesuit Portugis. Ia sendiri yang mencatat bahwa ia bertemu Raja Bolaang di tahun itu. Di Buntalo juga bisa dibuatkan Tugu Maindoka, yang menjadi pengingat bagaimana Boki Silagondo terlibat konflik dengan Spanyol gara-gara rebutan anjing pintar milik Boki Silagondo istri dari Punu Yayubangkai. Selanjutnya di Tudu In Bumbungon, kelahiran Mokodoludut dan kisah-kisah yang fenomenal dan begitu membekas yang hingga saat ini tradisinya masih dijaga masyarakat Dumoga terutama di desa Siniyung. Betapa penting sebab Tudu In Bumbungon adalah cikal bakal berdirinya kerajaan. Tapi coba kita lihat hari ini seperti apa Tudu In Bumbungon saat ini? Tugu Lombagin juga sebagaimana sudah diusulkan PS2BMR yang tepat sekali dibangun di simpang tiga jembatan Kaia. Tugu yang dibangun ini merupakan penanda-penanda peradaban dan jalannya sejarah Bolaang Mongondow itu sendiri. Siapa lagi kalau bukan kita yang memperhatikannya. Ini hanya beberapa poin kecil diantara banyaknya pekerjaan rumah terkait sejarah, adat, tradisi, dan kebudayaan di Mongondow.

Terakhir adalah soal dukungan bidang literasi. Hari ini lahir lembaga, komunitas, dan penulis-penulis lokal yang sedang mengerjakan bukunya terkait sejarah Bolaang Mongondow meliputi kebudayaan di dalamnya. Sebagian sudah diterbitkan. Sebagian sedang dalam penggarapan. Begitu mengharukan karena mereka tetap semangat mengerjakannya secara swadaya meski dihimpit keterbatasan terutama dalam penerbitan dan pencetakan. Namun demikian telah dibuktikan dengan lahirnya bacaan yang menambah kekayaan literatur tentang Bolaang Mongondow.

Lebih dari itu, hal yang perlu disambut baik adalah Pj. Bupati Limi Mokodompit tetap memberi ruang sebagaimana yang sudah dilakukan oleh para pendahulunya, kepada pelaku-pelaku budaya terutama kepada para tetua adat di Mongondow, agar tetap terlibat dalam siklus tradisi lingkup pemerintahan daerah Bolaang Mongondow," Papar Uwin Owen Mokodongan.

Penulis: Buyung Potabuga

Rabu, 10 Mei 2023

Resmi Mendaftar, Angelia Regina Wenas Potensi Raih 1 Kursi Dapil BMR, di DPRD Provinsi

Angelia Regina Wenas
Foto: istimewa 
Srikandi Partai Demokrat Angelia Regina Wenas (ARW), resmi tercatat sebagai Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) Partai Demokrat untuk DPRD Provinsi Sulawesi Utara, pada pemilu tahun 2024 mendatang.

Perempuan berusia 29 tahun ini menjadi Bakal Calon Legislatif, Partai Demokrat dari Daerah Pemilihan (Dapil) 4 Bolaang Mongodow Raya. Yakni; Kabupaten Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Utara, Bolaang Mongondow Selatan, dan Kota Kotamobagu, seusai dirinya memasukan kelengkapan berkas melalui Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat, DPD Provinsi Sulawesi Utara, Rabu (10/5).

Meski tergolong muda, perempuan kelahiran tahun 1993 ini rupanya tidak terlalu asing dengan dunia politik. Sebab, Angelia Regina Wenas (ARW) merupakan putri politisi kenamaan almarhum Jimmy Ricard Wenas, mantan anggota DPRD kabupaten Sangihe 2 periode. Ibunya, Adelin Palar, juga merupakan mantan anggota DPRD 1 periode.

Terinspirasi dari kedua orang tuanya, ARW aktif dalam berbagai organisasi sejak masa sekolah sampai masa kuliah, ARW pernah menjabat sebagai Momo Sangihe, pada pemilihan Ungke dan Momo Sangihe 2012. Setelah lulus SMA, ARW memutuskan untuk mengambil studi S1 Fakultas Ekonomi, Program Studi Akuntansi Bisnis, di Universitas Tarumanagara (UNTAR), Jakarta Barat.

Terhitung sudah 8 Tahun ARW telah berdomisili di Desa Dodap Pantai, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), setelah 2015 silam, ia menikah dengan Kevin Sumendap, yang juga merupakan anggota DPRD kabupaten Boltim. Keduanya dikaruniai 2 orang putra.

Dengan selalu mengandalkan Tuhan, ARW pun berharap dalam perjuangan dan sosialisasi yang telah ia lakoni hingga hari ini, dirinya akan bisa mendapatkan simpati dan dukungan untuk menjadi perwakilan rakyat di DPRD Provinsi Sulawesi Utara. 

Menurut ARW ada beberapa hal yang penting untuk ia perjuangkan di DPRD Provinsi. Diantaranya terkait dengan alokasi anggaran ke wilayah BMR, dan status kejelasan izin pertambangan rakyat.

"Tak luput dari saya selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap perjuangan, pertama-tama tentu saya juga meminta doa dan dukungan dari segenap masyarakat Bolaang Mongondow Raya, untuk membantu saya dalam kontestasi politik di Pileg 2024 ini untuk DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Selain itu, menurut saya hal terpenting yang harus menjadi prioritas untuk diperjuangkan oleh anggota DPRD provinsi adalah alokasi anggaran ke dapilnya. Agar Bolaang Mongondow Raya bisa mendapatkan anggaran yang besar dari pihak provinsi. Dan terkait kebutuhan masyarakat yang berprofesi sebagai penambang lokal, mereka harus diberi kepastian hukum, dengan diberikan izin wilayah pertambangan rakyat," jelas ARW.

Selain itu, ARW mengatakan, dukungan semua pihak sangat dibutuhkan, tak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk para caleg lain yang sungguh-sungguh mau melayani sehingga golput bukanlah pilihan yang baik.

“Kalau kita membiarkan hak kita lepas begitu saja, tidak memilih orang baik, yang mau melayani dengan sungguh-sungguh, maka kita membiarkan orang jahat yang akan memimpin,” tegas ARW.

Kepada media ini, Argo Vincensius Sumaiku, Ketua DPC Partai Demokrat Boltim mengatakan, ARW diprediksi mulus ke DPRD Provinsi karena beberapa faktor, selain dia didukung oleh seluruh kader partai Demokrat di wilayah Boltim sebagai basisnya, ARW juga memiliki beberapa basis massa yang tersebar di wilayah BMR.

“Angelia sudah punya basis massa khususnya di Boltim, dan dibeberapa kabupaten kota di BMR juga ia punya massa, Ini yang menguatkan suaranya diprediksi cukup untuk membawanya ke kursi DPRD provinsi Sulawesi Utara” ujar Sumaiku.

Terpisah, Wakil Bupati Boltim, Oskar Manoppo juga memberi dukungan full terhadap Angelia Regina Wenas (ARW). Menurutnya sosok ARW yang muda tapi ia berwawasan luas. Hal itu menarik perhatian masyarakat, baik pemilih pemula maupun dewasa.

“Angelia Masih muda tapi memang dia mampu bersosialisasi dengan siapa saja. Dia sangat enjoy dan dekat dengan masyarakat. Dari 10 kursi DPRD Provinsi  Sulut, dapil BMR Angelia Regina Wenas salah satunya,” kata Oskar Manoppo. 


(Buyung Potabuga)

Angelia Regina Wenas
Saat menyerahkan berkas pendaftaran
ke Bappilu DPD Partai Demokrat Sulut.



Rabu, 26 April 2023

Dian Agriani Mamonto “Sang Petarung” Siap Munuju Kursi DPRD Boltim

Dian Agriani Mamonto
foto: istimewa

"Berkomitmen Degan Rakyat Untuk Perubahan dan Perbaikan"

Dian Agriani Mamonto, Putri kelahiran Desa Motongkad 30 Mei 1981, kembali membulatkan tekadnya untuk maju dan bertarung sebagai calon legislatif (Caleg) untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), pada pemilihan umum (Pemilu) Legislatif 2024, melalui Partai Demokrat.

Bermodalkan 700-an suara pemilih yang dia peroleh di-Pileg 2019 silam, membuat ia kembali didapuk untuk menjadi Bakal Calon Legislatif di dapil 2, yakni Kecamatan Motongkad dan Kecamatan Nuangan. 

Kepada media ini, Kamis (27/4), Dian mengatakan saat ini berbagai strategi telah ia lakukan dengan tujuan meraih simpati masyarakat, dan mendapatkan hati mereka sebagai modal untuk maju pada kontestasi pemilihan legislatif.

Ia mengaku, bahwa sebagai putri yang dibesarkan di Desa Motongkad, yang lahir dari lingkungan arus bawah tentu menyadari begitu pelik kehidupan rakyat yang jauh dari perhatian pihak pemerintah daerah. Sehingga hal tersebut memotivasi dirinya untuk memantapkan tekad maju ke bursa pemilu legislatif demi sebuah harapan sejumlah rakyat yang dititipkan padanya.

Dian Agriani Mamonto bersama
Wakil Bupati Boltim Oskar Manoppo
Anak sulung dari 3 bersaudara, putri pasangan Syafrudin Mamonto dan Hj Talha Alaydrus ini, dipastikan akan maju ke bursa legislatif 2024, mengendarai Partai Demokrat. Hal ini dikuatkan dengan komunikasi politiknya bersama beberapa tokoh utama partai demokrat di Boltim yakni Argo Sumaiku sebagai ketua DPC Partai Demokrat, dan Oskar Manoppo yang tidak lain adalah Bakal Calon Bupati yang akan diusung oleh Partai Demokrat di Pilkada 2024 mendatang. dari informasi yang berhasil dirangkum, Dian sendiri telah mengantongi nomor urut 1 dalam line-up Bacaleg partai Demokrat untuk dapil 2.

Sebagai politisi muda ia mengaku, dirinya telah memberikan diri sepenuhnya untuk berjuang demi kepentingan rakyat. Sebab menurutnya seorang calon anggota legislatif harus mempunyai komitmen untuk memperjuangkan aspirasi rakyat. 

“Komitmen itu merupakan hal terpenting. Apalagi dengan melihat kondisi sosial masyarakat khususnya di dapil 2 Motongkad dan Nuangan, tempat tanah kelahiran saya, belum begitu diperhatikan oleh pemerintah daerah. Baik itu dalam pemberian alokasi anggaran pembangunan dan bantuan, atau pengawasan untuk mencegah terjadinya praktek korupsi ditiap-tiap program pembangunan pemerintah daerah. Nah hal ini adalah tugas dan fungsi dari wakil rakyat di DPRD. Untuk memperjuangkan anggaran sebesar-besarnya dan dibawah ke dapilnya, juga mengawasi jalannya pembangunan di daerah pemilihannya,". tandas Dian.

Begitu pula, kata dia, tentang kebijakan dalam hal fungsi legislasi atau pembuatan undangan-undang di DPRD. Hal ini akan ia manfaatkan dengan betul jika ia terpilih sebagai wakil rakyat, sebab disitu ia bisa memperjuangkan hak-hak masyarakat yang berkaitan dengan undang-undang dan peraturan daerah. Sebab dalam benaknya terselip niat untuk memperjuangkan tanah-tanah HGU yang ada di wilayah dapilnya, agar bisa dikembalikan kepemilikannya secara sah ke masyarakat.

"Di desa Motongkad ada lahan HGU, dan HGU tersebut bisa dikembalikan kepada masyarakat dan disertifikasi atas nama mereka. Hal itu bisa diperjuangkan di lembaga DPRD, sebab salah satu tugas DPR itu adalah persoalan legislasi. DPRD memiliki tiga fungsi, yaitu: Legislasi, yang berkaitan dengan pembentukan peraturan daerah. Anggaran, Kewenangan dalam hal anggaran daerah (APBD), dan Pengawasan, Kewenangan mengontrol pelaksanaan perda dan peraturan lainnya serta kebijakan pemerintah daerah," urai Dian, pengusaha mandiri yang kini tercatat sebagai koordinator wilayah Indonesia Timur biro travel Umroh/haji, di PT Rihlahtul Hidayah Wisata.

Walau boleh dibilang sebagai pendatang baru, dan harus bersaing dengan rivalnya di luar partai, Dian Agriani Mamonto yang dikenal sebagai wanita petarung ini tetap merasa optimis. Bahkan dia mengatakan; untuk memperjuangkan hak-hak rakyat di DPRD, dia sudah siap dengan segala strateginya.

"Meski saya dibilang pendatang baru, tapi hal itu tak akan pernah menyurutkan niat untuk menyerah, bersaing untuk kepentingan rakyat. Dan hal itu wajar, sebab pada kontestasi politik di 2019 lalu, saya sudah mengantongi 700 lebih suara rakyat yang memilih saya. Kepada mereka itulah saya sudah memantapkan sikap, dan menanamkan dalam diri saya, agar terus berupaya untuk menjadi manusia yang memiliki manfaat bagi banyak ummat. Dengan berpolitik yang berlandaskan syariat, agar saya bisa bermanfaat bagi rakyat. Sebab amanah dari rakyat akan dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan Tuhan yang Maha Kuasa". Ucap Dian menjelaskan pedoman hidupnya.

 

Penulis: Buyung Potabuga

Dian Agriani Mamonto
Foto: Istimewa


 

x

Minggu, 16 April 2023

Kenapa Elly Lasut Selalu Disingkirkan di Medan Perang Demokrasi?

Elly Angelbert Lasut
foto: istimewa

Melawan Lupa Untuk Tahun-tahun Yang Berulang di Pilgub Sulut


"Melawan Elly Engelbert Lasut dalam pertarungan politik yang fair dalam sistem demokrasi, akan menjadi neraka bagi mereka"


DIA yang terpilih tidak akan bisa dikalahkan. Demikian kebenaran yang termaktub dalam hati rakyat Sulawesi Utara hari ini. Dan kebenaran inilah yang mengancam sejumlah besar lawan politik Elly Engelbert Lasut hari ini.

Sebagai akibatnya, kita melihat ditahun-tahun sebelumnya bagaimana Elly terus menerus dikorbankan bagi kepentingan politik mereka. Elly, pada akhirnya, menjadi monster yang paling menakutkan bagi lawan-lawan politiknya. Sekuat apapun mereka, setinggi apapun popularitas mereka, sehebat apapun strategi mereka, nama Elly selalu muncul sebagai ancaman bagi kemenangan mereka, atau jaminan bagi kekalahan mereka, dalam kontestasi politik. Melawan Elly dalam pertarungan politik yang fair dalam sistem demokrasi, akan menjadi neraka bagi mereka.

13 tahun yang lalu, pada pemilihan Gubernur Sulawesi Utara 2010, Elly adalah nama yang menggentarkan lawan-lawan politiknya di Sulawesi Utara ketika, bersama Henny Wulur, dia maju sebagai calon gubernur Sulut. Kita kemudian tahu bahwa Elly tidak pernah dikalahkan di medan perang demokrasi. Skenario politik, dalam sebuah alur yang disusun berdasarkan jaringan canggih penghancuran karir politik dengan menggunakan hukum, diterapkan secara halus. Dalam bahasa hukum, Elly ditahan, disidang, dan dipenjarakan. Dalam bahasa politik, Elly dijegal. Dalam bahasa rakyat kecil, Elly dikorbankan.

Skenario yang sama, dalam alur yang agak berbeda, kembali diterapkan lima tahun kemudian atau, tepatnya pada Pilgub 2015, Pencalonan Elly sebagai gubernur, dengan menggandeng figur dari kubu Muslim, David Bobihoe, kembali diletakkan di bawah kilatan pedang algojo hukum. Waktu itu, hukum yang digunakan adalah peraturan KPU mengenai syarat pencalonan gubernur. Pencalonan Elly-David digugurkan oleh KPUD Sulut. Artinya, Elly sekali lagi berada dalam ancaman untuk disingkirkan dari medan demokrasi. Politik sekali lagi dipecundangi atas nama aturan dan hukum.

Tanpa niat untuk menyepelekan aturan dan hukum. Kita boleh bertanya, kenapa Elly selalu disingkirkan dari medan pertarungan demokratis? Kita boleh curiga untuk banyak alasan.

Elly jelas bukan lawan yang enteng dalam perhitungan kita atas kontestasi politik hari ini dan, juga, 13 tahun yang lalu. Dia selalu muncul sebagai kekuatan yang mengancam bagi lawan-lawan politiknya, seyakin apapun mereka pada kekuatan mereka sendiri. Bahkan bagi warga yang paling awam sekalipun, Elly tidak pernah hadir dalam kontestasi politik tanpa meninggalkan kesan menarik bagi mereka.

Berbeda dari kebanyakan politisi di Sulawesi Utara hari ini, Elly adalah figur yang muncul dari mimpi masyarakat Sulawesi Utara sendiri. Mimpi yang paling ditakuti oleh para politisi “utusan pusat kekuasaan”. Elly adalah Mimpi warga Sulut untuk memiliki pemimpin yang keringatnya benar-benar berbau Sulawesi Utara. Mimpi yang hanya bisa diwujudkan oleh seorang politisi yang keluar dari kantong rakyat Sulawesi Utara sendiri, bukan politisi yang keluar dari kantong para selebriti politik di pusat-pusat kekuasaan yang jauh di sana. Dan Elly Engelbert Lasut memenuhi semua kriteria itu. 

Elly adalah anak kandung Sulawesi Utara. Politisi yang dibesarkan oleh kenangan dan harapan warga Sulawesi Utara tanpa kegenitan untuk membesarkan nama dan mencari popularitas di panggung-panggung selebritas dari luar Sulawesi Utara. Sementara kebanyakan lawan politiknya berjuang menggelembungkan popularitas mereka di ruang-ruang ber-AC di Jakarta, Elly bersedia melukai tangannya sendiri demi menyentuh rakyat Sulawesi Utara. 

Ringkasnya, Elly adalah “the choosen one” alias “yang terpilih”. Dia telah dipilih jauh sebelum pemilihan itu sendiri dilaksanakan. Kita tahu itu, masyarakat tahu itu, dan lawan-lawan Elly juga tahu itu. Dan mereka tahu betul bahwa yang terpilih tidak akan bisa dikalahkan. Dia hanya bisa disingkirkan dari pemilihan. Adapun skenario strategis bagi penyingkiran itu tidak perlu disusun baru. Mereka hanya perlu mengulang skenario yang sama yang pernah diterapkan dengan sangat berhasil pada tiga belas tahun yang lalu. Dan kita tidak boleh membiarkannya. Bukan atas nama Elly Engelbert Lasut tapi atas nama demokrasi di bumi nyiur melambai yang sama kita cintai ini. (*)

@ dari timur totabuan, tempat dimana bintang mercy bersinar.
@ boltim, 16 april 2023_ 

Sabtu, 15 April 2023

Caleg Tanpa Visi Misi, Tonton di "Birman The Movie"

 Caleg Tanpa Visi Misi
"Apa ngana pe mau itu kita pe Hobby"
Bambang Racuntikus


BIRMAN bercerita tentang dua keluarga bertetangga yang akhirnya berkonflik karena tersulut persoalan catur. Dimulai ketika Papa Nita yang diperankan Supriadi Djaenuri larut bermain catur dengan tetangganya (Papa Ladung) diperankan Enda Manggopa, lalu datang Mama Nita memanggil suaminya karena di rumah barusan tiba petugas koperasi datang menagih.
  
Konflik kedua tetangga ini kian meruncing dikarenakan perbedaan dukungan mereka terhadap Caleg dimana keluarga Papa Ladung dan Papa Nita adalah tim sukses dari Caleg berbeda. Kedua Caleg diperankan oleh Bambang Racun Tikus dan Jeldi Jels Mamonto. 

Dicky seorang pemuda yang diperankan Arthur Mokoagow, membawa benang merah cerita menjadi plot menarik dimana ia tak pernah menduga bakal terseret ke tengah konflik antar birman yang memanfaatkan kesalahannya terhadap tokoh Papa Masran (diperankan Criesh Mamonto Maduruka) dengan menyuruhnya memasang alat peraga kampanye di rumah tetangga. Tapi Dicky yang didukung teman-temannya (diperanakan Amu Mokoginta, Bowo Koagow, dan Anjas Abo Mokoagow) membuat kejutan yang tak pernah disangka.
 
Dengan seting pedesaan dalam nuansa bulan ramadan, Birman  adalah campuran drama sosial yang biasa terjadi dalam keseharian kita, dibumbui sedikit komedi.
  
Uwin Mokodongan dari Monibi Institut sekaligus penulis naskah skenario menyampaikan, film yang berdurasi sekitar 45 menit ini adalah hasil kerjasama antara TVRI Sulut dengan Monibi Institute dan Sanggar Abo Tadohe.
  
"Aktor dan aktrisnya semua orang lokal. Naskah dan skenario juga demikian. Rencananya akan tayang di stasiun TVRI Sulut pada 22 April 2023 mendatang," katanya.



Kamis, 06 April 2023

Ijtihad Politik Rahman Salehe, Menemukan PDIP Sebagai “Jalan Takdir”

Rahman Salehe
Rahman Salehe akhirnya menentukan jalan politik dengan menjadikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), sebagai kendaraan politiknya untuk maju bertarung dikontestasi pemilihan legislative 2024 nanti, menuju kursi DPRD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Perjalanan Rahman Salehe terbilang cukup panjang, hingga akhirnya ia memutuskan untuk berlabuh ke partai banteng moncong putih itu. Rahman Salehe menyatakan bahwa PDIP adalah partai politik (Parpol) yang konsisten memperjuangkan hak rakyat. Menurutnya, hal itu menjadi alasan dasar dirinya bergabung ke PDIP. Selain itu, dalam pandangan Rahman Salehe, memantapkan sikap di PDIP adalah sebuah Ijtihad politiknya, dalam artian; sebuah usaha yang sungguh-sungguh telah ia lakukan dalam memutuskan sebuah keputusan.

Kepada media ini, Kamis (6/4), Rahman Salehe, mengungkapkan bahwa dirinya telah mempertimbangkan dan memutuskan untuk bergabung dengan Partai PDIP sebagai kehendak dirinya pribadi, dan orang banyak disekitarnya. Karena kalau hanya berdasarkan ambisi saja, Rahman Salehe menganggap hal itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri.

"Jalan panjang yang saya lewati hingga hari ini adalah ijtihad politik saya dalam mencari Partai yang sesuai dengan karakter saya. Sebab harus jujur bahwa saya adalah orang baru di dunia politik. Dan diantara Ijtihad saya itu, ada dua jalan yang Alhamdulillah telah berhasil saya lewati. yaitu Jalan ikhtiar saya, dan Jalan Takdir saya. Untuk itu hari ini saya menegaskan bahwa PDIP adalah jalan takdir bagi saya Rahman Salehe. Kedepanya bersama PDIP saya akan terus berjalan untuk menjemput takdir itu yang hanya diketahui diujung jalan nanti,” jelasnya.

Kegiatan Bagi Takjil
Saat ditanya lebih detail soal motivasinya masuk dunia politik dan mengapa
memilih PDIP? Rahman Salehe menuturkan bahwa dirinya masuk ke dunia politik merupakan salah satu jalan untuk dapat memberikan kebaikan dan pengaruh kepada masyarakat. Sebab, lewat jalur itulah seseorang dapat menjadi wakil rakyat yang bertugas membuat berbagai kebijakan yang berpihak kepada masyarakat. Dan ia percaya bahwa lewat jalur PDIP, ia bisa terpilih sebagai wakil rakyat dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebab dalam pandangan Rahman Salehe, sebagaimana karakternya yang tak berjarak dengan masyarakat, itu sejalan dengan cara-cara partai PDIP dalam hal merangkul kepentingan rakyat sampai di tingkatan paling bawah, hingga PDIP bisa dikenal dengan istilah partainya wong cilik.

"Saya melihat PDIP adalah ideologi saya sebenarnya yang sesuai dengan karakter saya. Saya merasa bahwa PDIP sangat konsisten membela dan memperjuangkan hak rakyat kecil. Sementara perbuatan baik dalam memperjuangkan masyarakat dan menjangkau masyarakat yang lebih luas adalah lewat jalur politik. Karena lewat jalur itulah kita bisa ikut dalam membuat kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, cara-cara dari PDI Perjuangan dalam mendekati masyarakat, juga menjadi salah satu faktor yang membuat saya memilih bergabung dengan PDI Perjuangan. Partai nasionalis yang menurut saya tepat dan sesuai dengan keinginan saya untuk berbuat dan berbagi dengan masyarakat," pungkas Rahman Salehe

Diketahui, Rahman Salehe resmi menjadi kader PDIP Boltim setelah Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Boltim, menerbitkan Kartu Tanda Anggota (KTA) atas namanya. Pembuatan KTA PDIP tersebut sesuai arahan ketua DPC PDIP Medy Lensun kepada Rahman Salehe saat keduanya bertemu empat mata di kediaman Medy Lensun.

Ketua DPC PDIP Boltim Medy Lensun saat dikonfirmasi mengatakan, PDIP Boltim sifatnya terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung dan bersedia membesarkan Partai. Selain itu Medy Lensun juga memastikan keanggotaan Rahman Salehe di PDIP dengan masuk di line-up bakal calon legislative dari PDIP untuk dapil 1 yakni Kecamatan Kotabunan-Tutuyan.

“PDI-Perjuangan terbuka untuk kader dan simpatisan dari berbagai kalangan, Politisi, pengusaha, aktivis, wartawan dan semua yang punya passion untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan juga membesarkan partai di Boltim. Dan Rahman Salehe statusnya saat ini sudah masuk lineup caleg dapil 1,” terang Medy Lensun.


Penulis: Buyung Potabuga

Foto: Istimewa


Farok Disi Siap Tarung ke DPRD Boltim

Farok Disi

Mendekati Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024 mendatang, sejumlah figur mulai bermunculan dan menyatakan diri siap untuk bertarung merebut kursi anggota DPRD Bolaang 
Mongondow Timur (Boltim).

Salah satu yang mencuat, ada nama Farok Disi yang siap bertarung dalam Pileg 2024 mendatang. Sebelumnya Farok Disi adalah Anggota Intel Polres Kotamobagu, dan mantan anggota tim opsnal satuan reskrim Polsek Kotamobagu dengan pangkat AIPDA. Alih-alih terus meniti karier, Farok Disi justru ikhlas pensiun dini. Menjadi pengusaha dan kini memilih untuk bertarung dikontestasi politik 2024 mendatang, menuju kursi DPRD Kabupaten Boltim.

Farok Disi sebagai Figur potensial yang kini berprofesi sebagai pengusaha, mulai dilirik warga dan partai politik. Pasalnya, selain dekat dengan masyarakat, Farok Disi  dinilai memiliki rekam pergaulan yang sangat baik di tengah masyarakat. Dengan demikian Farok Disi dianggap bisa memiliki kapasitas dalam menduduki jabatan-jabatan publik, termasuk sangat layak menjadi wakil rakyat, karena rajin membantu warga masyarakat dilingkunganya.

Selain itu,  Farok Disi juga kenal sosok pekerja keras dan rendah hati, dan punya jiwa sosial tinggi. Ia mampu membaur dengan rakyat kecil sekaligus menarik simpati mereka. Meski pendatang baru di jagad politik Boltim, Farok Disi terpanggil terjun sebagai politisi. Ia memiliki jiwa petarung dengan memilih Partai Demokrat, yang notabene di luar pemerintahan saat ini untuk perahu perjuangannya. Ia hendak membuktikan bahwa bukan hanya para petahana yang bisa meraih simpati rakyat, dan berpeluang memenangkan hati mayoritas masyarakat di dapil 3 kecamatan Modayag Barat, Modayag dan Mooat.

Farok Disi bersama
Ketua DPC PD Boltim Argo Sumaiku
“Niatan saya maju ke DPRD Boltim 2024 sebagai bentuk pemberian diri untuk membangun Kabupaten Boltim lewat DPRD, dengan cara membawa setiap aspirasi dari warga untuk dibahas diparlemen sebagai bahan rumusan yang akan diperjuangkan dalam setiap rapat di DPRD sehingga menghasilkan sebuah kebijakan yang diinginkan masyarakat. Bukan malah sebaliknya hanya menjadi wakil rakyat pengekor pada yang berkuasa,” ungkap Farok Disi.

Lebih lanjut, menurut Farok Disi, sangat penting memiliki anggota wakil rakyat yang memiliki daya juang yang tangguh serta mampu bersuara sebagai seorang legislator ketika sedang membahas peraturan perundang-undangan, penganggaran dan pengawasan sehingga dapat mempengaruhi sebuah kebijakan yang berdaya guna bagi kepentingan rakyat.

“Memilih wakil rakyat itu harus yang berani dan mampu bicara untuk kepentingan rakyat, sebab DPRD sebagai lembaga legislatif adalah perwakilan masyarakat  yang memiliki tugas untuk mengawasi jalannya pemerintahan, terkait dengan kebijakan yang diambil oleh pemerintah (eksekutif). Sebab eksekutif sebagai pelaksana undang-undang memang harus mendapatkan pengawasan. Karena jika pemerintah tidak mendapatkan pengawasan, akan memungkinkan munculnya penyalahgunaan wewenang. Hal ini banyak kali terjadi.” Jelas Farok Disi.

 

Penulis: Buyung Potabuga

Selasa, 04 April 2023

Menjawab Soalan Gelar BOGANI Ki LIMI

Tangoi Noisimpuloi
foto; Chairun Mokoginta,
sumber: internet
, Kriteria, Hingga Gelar Bogani (bag. 1)

(Dalam Pandangan Budayawan Chairun Mokoginta)


Dalam Budaya Bolaang mongondow gelar itu sama dengan Nama, yang dalam bahasa daerah Bolaang Mongondow disebut Tangoi. Adapun dalam artian etimologi nama atau tangoi  itu terbagi dalam tiga bagian. Pertama yang disebut dengan Tangoi Noitombuloi artinya Nama yang terpatri selamanya, Tangoi Noidonoi artinya nama yang menempel, dan Tangoi Noisimpuloi yang berati nama yang melilit.

Sedangkan dalam pemaknaanya Tangoi Notoimbuloi itu berarti nama yang dibawah sampai mati, dan nama yang hanya bisa berubah kecuali atas kemauan sendiri. Tangoi Noidonoi adalah nama yang suatu waktu bisa berubah, contohnya jika seseorang laki-laki yang sudah menikah kemudian punya anak, dalam budaya Mongondow, nama lelaki tersebut akan dipangil dengan sebutan mengunakan nama anaknya untuk ditempelkan pada panggilanya sebagai bapak. Contohnya nama pemanggilan atas namaya akan berubah menjadi Papa Fulan (ayah dari fulan) misalnya. Adapun Tangoi Noisimpuloi dalam filosofinya, adalah  yang disebut Gelar.

Menurut Chairun Mokoginta, gelar dalam makna filosofinya berarti; sebuah nama yang secara serta merta telah melilit atau membungkus diri seseorang, juga menjadi perombak dalam status social orang tersebut. Gelar dapat diperoleh dengan dua cara, pertama; Gelar yang melilit, membungkus seseorang karena darah dan keturunanya yang tidak terputus dari leluhur. Dan yang kedua; Gelar yang diberikan kepada seseorang. Contohnya Gelar Sangadi (sebutan bagi kepala desa), kelak ketika seseorang tersebut bukan lagi Kepala Desa, maka dia bukan lagi dipanggil sebagai Sangadi.  

BOGANI

Proses penyematan Gelar Bogani
oleh Chairun Mokoginta
Bogani secara etimologi berarti Api. Lalu bagaimana sampai ada penyebutan Bogani?,
Menurut Budayawan Chairun Mokoginta, didalam tradisi orang Mongondow mula-mula, Bogani adalah gelar yang pertama dan yang tertua dalam sejarah manusia Bolaang Mongondow. Dalam penyematan Gelar Bogani, dahulunya hal itu harus melewati sebuah proses panjang dalam memilih seorang pemimpin yang akan di sebut seorang Bogani. Proses tersebut dimulai dengan sebuah ritual yang dinamakan Motayok. Motayok adalah sebuah ritual yang digunakan untuk meminta bantuan leluhur. Ritual Motayok ini sudah dilakukan dizaman ribuan tahun sebelum masa punu’/raja.

Lebih lanjut, Chairun Mokoginta menjelaskan, dalam sebuah proses penyematan Gelar Bogani di masa lampau, itu dimulai dri sebuah proses pengkaderan. Yaitu ada sekelompok laki-laki dan perempuan yang akan terus dilatih. Pertama, para kader yang di persiapkan untuk mendapatkan gelar Bogani tersebut, mereka akan  diperkenalkan terlebih duhulu tentang ilmu dasar tata cara mempersiapkan sebuah ritual yang disebut Ritual Mogibol, dan segalamacam bahan-bahan perlengkapan yang harus di persiapkan dalam ritual tersebut. Ketika mereka terlihat sudah menguasai ilmu dasar Ritual Mogibol, kemudian prosesnya meningkat lagi, dan mereka akan disebut Posindogon. Posindogon itu adalah sebuah proses pengkaderan sebelum dia menjadi Bolian. Saat prosesi Posindogon, para kader tersebut masih didamping oleh tokoh-tokoh adat, ketika dia sudah dianggap lulus, baru kemudian naik satu tingkat lagi, sehingga seseorang tersebut sudah bisa disebut sebagai Bolian. Bolian berarti orang yang sudah bisa melakukan proses ritual sendiri.

Setelah menjadi Bolian, mereka sudah mulai masuk pada kemampuan supranatural, kemudian ilmu-ilmu supranatural sudah mulai ditanamkan kepada mereka. Setelah menjadi Bolian, proses para kader itu meningkat lagi menjadi Burangin. Burangin adalah para kader yang sudah menguasai tradisi dan kemampuan supranatural yang super. Dan pada puncaknya dari sekian banyak kader yang telah menjadi seorang Burangin, lalu mereka akan saling diadu, untuk mendapatkan pemenang yang mempunyai keterampilan supranartural yang paling hebat, hingga muncul satu orang saja yang terhebat diantara mereka. Makanya dari sekian banyak Burangin, ada satu yang dipilih sebagai pemimpin dari Burangin. Seorang yang tak terkalahkan diantara Burangin itu, diangkatlah dia sebagai seorang dengan Gelar BOGANI. Jelas Chairun Mokoginta. 


KRITERIA MENJADI BOGANI

Bogani Ki Limi dan Boki' Ki Iryanti 
Dalam proses pengkaderan mulai dari posindogon, menjadi bolian, menjadi burangin, kemudian menjadi Bogani, itu ada kriteria yang menjadi syaratnya yang harus dipenuhi. Syarat atau kriterianya tersebut, dalam pandangan Chairun Mokoginta, pertama; seseorang tersebut harus  sehat jasmani dan rohani, berjiwa patriotisme, punya sikap pemberani dan menjadi simbol kekuatan dan ketegasan. Sehingga ketika orang-orang menyebut Bogani, langsung terbayang seorang yang tinggi, besar, dan kuat. Seorang yang merangkum seluruh kriteria itu dalam dirinya, orang tersebut akan disebut MOKODATOL, artinya mampu untuk menjadi Tumpuan. Dimana jiwa patriotismenya akan mampu menjaga wilayah Totabuan sebagaiman hal ini ada dalam Toibag; Lolaki Mosalendangan, Bogani Pinonangoiyan, Pinonisi’ Kon Totabuan, (Seorang lelaki yang berwibawah, seorang Bogani yang ternama, menjaga tanah totabuan).

Lebih lanjut, Kriteria yang kedua adalah; yang disebut MOKORAKUP. Secara etimologi Mokorakup artinya mampu menggenggam dalam satu tangan, tapi secara filosofi mokorakup berarti seseorang yang mampu mengayomi seluruh anggota masyarakat dalam segala kebutuhanya. Dalam artian yang luas Mokorakup adalah kemampuan mensejahterakan masyarakat. Sebab Leluhur Bolaang Mongondow dalam mengartikan bahasa, mereka tidak menerjemahkan sesuatu bahasa berdasarkan pada makna etimologi, tapi selalu pada makna fhilosofi. Sebut Chairun Mokoginta.

Sedangkan kriteria yang ketiga adalah yang disebut MOKODIA. Mokodia dalam pemaknaanya adalah seseorang yang mampu menerapkan berbagai ketentuan agar masyarakat itu bisa aman. Ketentuan tersebut berupa sangsi-sangsi adat. Dan seseorang yang disebut Mokodia itu adalah, ketika ia sudah mampu menerapkan aturan-aturan tersebut kepada semua kelompok masyarakatnya tanpa terkecuali.

Kriteria yang ke-empat adalah seseorang yang disebut MOKOANGA’. Padanan kata yang setara dengan kata mokoanga’ adalah seseorang yang mampu menarik simpati banyak orang. Mokoanga’ juga dalam pemaknaanya disini terbagi dalam dua hal. Pertama Mokoanga’ dalam hal prilaku, mental, dan seseorang yang tidak tercelah. Yang kedua adalah Mokoanga’ dalam penampilan fisik. Oleh sebab itu para Bogani juga  dalam tampilan berpakaian, mereka selalu tampil berbeda dan berwibawah.

Kesimpulanya, Chairun Mokoginta dalam sebuah penelitiannya, menjelaskan bahwa ke-empat kriteria tersebut diatas, masih sangat relefan untuk dipakai dizaman sekarang ini. Empat kriteria itulah yang membentuk seorang menjadi Bogani. Oleh sebab itu, Bogani itu adalah sebuah gelar yang super dan komprehensif. Dari seluruh gelar yang pernah ada dalam sejarah orang Mongondow, Bogani adalah gelar yang paling tinggi. Tutur Chairun Mokoginta.

Penulis: Buyung Potabuga

Jumat, 31 Maret 2023

Bogani Limi Menjadi Semangat Baru Kemajuan Kebudayaan di Bolaang Mongondow

"Igay kita Moyokapit, Moyobamban, Motobatu Molintak kon Totabuan Bolaang Mongondow - Mari Kita bergandengan tangan, saling mendukung, Bersatu untuk mengangkat Totabuan Bolaang Mongondow" Ir. Limi Mokodompit, MM

Bogani Ki Limi
dan Ketua DPRD Bolmong Welty Komaling
Pj Bupati Bolaang Mongondow Ir. Limi Mokodompit, MM, setelah dianugerahi gelar adat sebagai Bogani, menjadi semangat baru bagi dia dalam memajukan kebudayaan di daerah dan terobosan dalam upaya perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.

Hal ini sejalan pula dengan amanat dalam Moto Bolaang Mongondow “Motobatu Molintak Kon Totabuan” yang artinya; bersama-sama membangun totabuan (totabuan adalah nama lain dari daerah Bolaang Mongondow). Moto ini dikenalkan oleh Bupati Bolaang Mongondow sebelumnya, Oe N. Mokoagow Bupati Bolaang Mongondow pada tahun 1966-1976 M.

Sebagai Bogani, Limi Mokodompit menginginkan adanya keseimbangan antara pemerintah daerah, komunitas adat dan para penggiat budaya di Bolaang Mongondow dalam peran membangun daerah. Menurutnya, adat dan kebudayaan adalah wujud jati diri dan bagian dari pembangunan karakter. Untuk itulah diperlukan kerja sama dalam upaya pembangunan.

Diketahui sebelumnya, Pejabat Bupati Bolaang Mongondow Ir. Limi Mokodompit MM telah dianugerahi Gelar Adat sebagai Bogani  sedangkan Istrinya Iryanti dianugerahi gelar Boki. Adapun acara tersebut dilaksanan di halaman rumah dinas Bupati, Senin (27/3/2023). Gelar Bogani yang disematkan tersebut diawali dengan menggelar musyawarah “mobakid” perwakilan seluruh tokoh adat tingkat Desa dan Kecamatan se-Kabupaten Bolaang Mongondow. Musyawarah dipimpin langsung oleh tokoh adat dan budayawan Bolaang Mongondow Chairun Mokoginta. 

Bogani Limi menjelaskan bahwa gelar Bogani adalah sesuatu yang sangat sakral, sehingga apa yang disematkan menjadi tanggung jawab besar baginya. Dalam pandangannya, Bogani adalah sosok pelindung bagi segenap rakyat Bolaang Mongondow, dan pemberian gelar Bogani adalah bagian dari upaya melestarikan nilai adat dalam konteks kuktural yang mampu bertransformasi dalam kehidupan modern dan pluralisme sebagai pemersatu rakyat Bolaang Mongondow dimasa depan.

“Bagi saya pemberian gelar Bogani adalah sesuatu yang sakral, dan menjadi tanggung jawab moral bagi siapa saja yang diberi gelar, karena Bogani bagi saya adalah sosok pelindung, pemersatu, pengayom, keteladanan, dan panutan. Selain itu Bogani adalah lambang keperkasaan, sehingga cukup berat memikul tanggung jawab gelar ini. Bogani juga berperan sebagai penjaga nilai-nilai adat dalam konteks kuktural yang mampu bertransformasi dalam kehidupan yang modern dan pluralisme, pemersatu rakyat dimasa depan. Semangat Bogani dalam pandangan saya adalah ketokohannya, kepemimpinannya, dan keteladanannya dalam mengayomi, menghidupi, dan menjaga kebersamaan kekeluargaan dan keadilan setiap kita masyarakat totabuan,” urai Bogani Limi. 

Dalam kapasitasnya sebagai pemegang gelar Bogani, Limi Mokodompit bertujuan menciptakan keterhubungan yang baik antara lembaga pemerintahan dan lembaga adat sejalan bersama dalam membangun Bolaaang Mongondow. 

“Sebagai pimpinan daerah, tentu saja saya wajib menjalankan roda pemerintahan sesuai regulasi undang-undang yang ada. Terlepas dari sebagai pimpinan pemerintahan, saya sebagai Bogani. Sehingga, sudah selayaknya pemerintahan tetap menghargai nilai-nilai adat-budaya, dan berdampingan dalam visi bersama membangun Bolaang Mongondow ke depan. Gelar kehormatan ini bukan hanya menguatkan jalanya roda pemerintahan, dan menjaga keutuhan semua warga negara khususnya masyarakat Bolaang Mongondow, melainkan turut menjaga nilai budaya, dan kearifan lokal, dalam bingkai persatuan dan kesatuan,” ungkap Bogani Limi.

Lebih lanjut Bogani Limi memaparkan, ada dua pilar yang dapat menopang jalannya pembangunan daerah  yakni lembaga pemerintahan dan lembaga adat. "Jika keduanya berjalan seiringan maka ini akan membawa persatuan dalam membangun daerah dan menjaga nilai budaya di Bolaang Mongondow tercapai" katanya.

“Bilamana kedua pilar ini dipegang orang  yang sama, maka dipastikan dia akan mampu menjaga keutuhan masyarakat, keragaman, kesejahteraan dan keadilan, serta persamaan hak setiap warga. Siapapun dia yang menjalankan kedua pilar tesebut dipastikan akan mampu menjaga dan mempertahankan nilai-nilai budaya daerah yang menjadi kebanggaan kita semua,” ungkap Bogani Limi.

Penulis: Buyung Potabuga


Dari Wikipedia

Ir. Limi Mokodompit, MM. (lahir di Passi Kabupaten Bolaang Mongondow, 02 Februari 1966) merupakan salah satu pejabat Eselon II di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara yang saat ini sedang menduduki jabatan sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara[1], dia juga saat ini dipercayakan menjabat sebagai Penjabat Bupati Bolaang Mongondow.[2]

Pengalaman Pekerjaan[sunting | sunting sumber]

  • Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Pemerintah Kabupaten Mimika Papua
  • Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupaten Mimika Papua
  • Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (12 Januari 2022)
  • Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (31 Januari 2022 - Sekarang)
  • Penjabat Bupati Bolaang Mongondow (2022 - sekarang)

Benny Rhamdani Dan Suara Keberanian dalam Politik Indonesia

Keberanian Menyuarakan Kebenaran di Tengah Risiko Keberanian adalah sebuah sikap yang seringkali langka ditemui, terutama dalam dunia politi...