Senin, 27 Februari 2023

MENGENAL KELUARGA BANTENG, YANNY RONNY TUUK-LESLIE KALIGIS YANG BERJUANG DARI NOL

Sama-sama Sukses, Kini Meniti pada Qhezia


BANYAK orang kerap melihat kesuksesan karir seseorang di dunia politik misalnya, ketika ia berada di posisi yang dicapai hari ini. Sedikit yang mampu memperhatikan atau mengetahui bagaimana ia memulai perjuangan sampai bisa sukses. Yanni Ronny Tuuk, S.Th., Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bolaang Mongondow, adalah sosok yang hendak kita ulas kali ini. Ia meniti karir politiknya di PDIP, mulai dari bawah, yakni selaku pengurus di tingkat Kecamatan (Sekretaris PAC Dumoga Timur), Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. 

Komitmennya yang kuat terhadap PDIP tak hanya dibuktikan lewat perkataan. Sebab, di Tahun 2004 Yanni sukses meraih kursi DPRD. Dan 5 tahun kemudian di 2009, Yanni nekat menjual rumahnya demi mendanai konsolidasi partai. Di sini Yanni pun kembali Terpilih untuk periode kedua 2009-2014. 

Dan di masa kepemimpinannya ini, PDIP Bolmong mengantongi kemenangan pada pemilu 2014 dan pemilu 2019, hingga berhak atas kursi Ketua DPRD. Sebelumnya, pada 2010 silam, Yanni Ronny Tuuk, mundur dari kursi DPRD dan memilih bertarung di Pilkada Bolmong berpasangan dengan Salihi Mokodongan. Keputusan jitu dalam analisa politiknya ini membuahkan hasil. Ia terpilih bersama Salihi sebagai bupati dan Yanny menjadi wakil bupati Periode 2010-2015.

Figur Nasionalis Yanni Ronny Tuuk besar dalam keluarga Kristen yang religius. Bertahun-tahun
berkarir dan turut membesarkan PDIP, membentuk karakter nasionalisme YRT, singkatan namanya. Itulah sebabnya ia diterima semua kalangan di Bolmong. Salah satu bukti adalah saat unggul survey, ketika bertarung di Pilkada Bolmong 2017. Dengan kendaraan PDIP, Yanni kembali maju bertarung di Pilkada kali kedua, mendampingi Yasti Soepredjo Mokoagow. Sukses lagi. Ia pun sudah menuntaskan tugas sebagai wabup 2017-2022. 

Selain itu, Yanni juga dikenal tak berbatas dengan kelompok muslim dan komunitas Bali di Dumoga Raya. Yanni dalam kesehariannya mampu berbaur dengan rakyat kecil sekaligus menarik simpati mereka. Sisi itu telah menjadi bagian dari jalan kehidupan Yanni sehari-hari, sehingga dia bisa terpilih dua kali sebagai Anggota DPRD dan 2 kali sebagai Wakil Bupati Bolaang Mongondow. Bagi Yanni, kehidupan manusia sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia tinggal berikhtiar dan menjalankannya, Tuhan selalu memberikan sinyal dan hidayah bagi setiap manusia yang pantang menyerah, dan selalu berjuang meraih cita-cita. Kata Yanni pada suatu kesempatan bincang denganya, di kediamannya di Desa Mogoyunggung, kecamatan Dumoga Timur

Keluarga Banteng 


Kesuksesan Yanni Ronny Tuuk membesarkan PDIP di Bolmong tak hanya dilakukan di luar rumah. Di setiap Dapil, PDIP selalu memperoleh kursi. Bakat dan karir politiknya juga merambah di dalam keluarga kecilnya. Ini terbukti saat istrinya, ikutan digembleng dengan idiologi partai hingga menjadi kader banteng sejati. Terbukti sang Istri, Leslie Lanny Kaligis, mendapat dukungan signifikan di Dapil 3 Bolmong dan berhasil memperoleh kursi, hingga menambah susunan squad banteng di legislatif. 

Dalam capaian itu, sejumlah kalangan berkomentar; keluarga Yanni adalah “keluarga banteng”. Squad yang dibangun tak hanya di luar rumah, melainkan di dalam rumah juga. Ibaratnya pondasi sebuah rumah untuk seluruh kader banteng. Setelah snag istri, darah politisi kini menitis pada putri sulungnya, Qhezia Qren Tuuk, S.M.B.Bus. Perempuan cantik ini sekarang berkecimpung di dunia politik. Qhezia sekarang menjabat sebagai Ketua Banteng Muda Indonesia (BMI), Kabupaten Bolmong. 

Chia, sapaan Qhezia yang lahir di Kotamobagu, 19 November 1997 silam, merasa bangga bisa mewarisi darah politisi sang Ayah dan Ibunya. Ia turut andil membangun PDIP di Bolmong. Selain memiliki “darah politisi”, ditunjang pula wajah nan jelita, Chia juga memiliki kecerdasan mumpuni. Pun jiwa sosial tinggi, dan karakter petarung. 

“Ini seperti panggilan jiwa yang sulit ditolak. Darah Politisi sang ayah mungkin sudah mengalir di tubuh saya,” ucap Chia dengan nada optimis. 

“Selain mengidolakan Ayah, saya juga mengidolakan Bung Karno,” kata Chia yang sudah selesai menempuh studinya di Universitas Pelita Harapan Kota Tangerang dan RMIT di University Australia. 

Sabtu (25/2) pekan lalu, Chia turut ambil bagian dalam acara bakti sosial, berupa Khitanan Massal yang berlangsung di Inobonto, Kecamatan Bolaang, dalam rangka memperingati Isra Mi’raj 1444 H, yang dirangkaikan dengan HUT ke-50 PDI Perjuangan. 

Kepada koran ini Chia mengatakan ia begitu menikmati kegiatan Baksos yang diselenggarakan PDIP se-Sulut tersebut. Melalui kegiatan baksos ini, begitu terasa keterikatan dan keterhubungan dengan rakyat. 

“Rasanya kegiatan seperti ini begitu memberi makna, kita dapat bersama dan saling berbagi dengan banyak orang. Di sini saya kian menemukan jawaban, mengapa ayah dan ibu memilih karir sebagai politisi. Rupanya chemistry yang mereka temukan ketika bisa dekat, berbagi berkat dan menjadi berkah kepada orang banyak. Itulah yang membuat mereka memilih jalan ini,” tutup Chia. 


Penulis: Buyung Potabuga

Artikel ini juga sudah tayang di manado post digital

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Benny Rhamdani Dan Suara Keberanian dalam Politik Indonesia

Keberanian Menyuarakan Kebenaran di Tengah Risiko Keberanian adalah sebuah sikap yang seringkali langka ditemui, terutama dalam dunia politi...