Sama-sama Sukses, Kini Meniti pada Qhezia
BANYAK orang kerap melihat
kesuksesan karir seseorang di dunia
politik misalnya, ketika ia berada di
posisi yang dicapai hari ini. Sedikit yang
mampu memperhatikan atau
mengetahui bagaimana ia memulai
perjuangan sampai bisa sukses.
Yanni Ronny Tuuk, S.Th., Ketua DPC PDI Perjuangan
Kabupaten Bolaang Mongondow, adalah sosok yang
hendak kita ulas kali ini. Ia meniti karir politiknya di
PDIP, mulai dari bawah, yakni selaku pengurus di
tingkat Kecamatan (Sekretaris PAC Dumoga Timur),
Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.
Komitmennya yang kuat terhadap PDIP tak hanya
dibuktikan lewat perkataan. Sebab, di Tahun 2004
Yanni sukses meraih kursi DPRD. Dan 5 tahun
kemudian di 2009, Yanni nekat menjual rumahnya
demi mendanai konsolidasi partai. Di sini Yanni pun
kembali Terpilih untuk periode kedua 2009-2014.
Dan di masa kepemimpinannya ini, PDIP Bolmong
mengantongi kemenangan pada pemilu 2014 dan
pemilu 2019, hingga berhak atas kursi Ketua DPRD.
Sebelumnya, pada 2010 silam, Yanni Ronny Tuuk,
mundur dari kursi DPRD dan memilih bertarung di
Pilkada Bolmong berpasangan dengan Salihi
Mokodongan. Keputusan jitu dalam analisa politiknya
ini membuahkan hasil. Ia terpilih bersama Salihi
sebagai bupati dan Yanny menjadi wakil
bupati Periode 2010-2015.
Figur Nasionalis
Yanni Ronny Tuuk besar dalam
keluarga Kristen yang religius.
Bertahun-tahun
berkarir dan turut membesarkan PDIP, membentuk karakter nasionalisme YRT, singkatan namanya. Itulah sebabnya ia diterima semua kalangan di Bolmong. Salah satu bukti adalah saat unggul survey, ketika bertarung di Pilkada Bolmong 2017. Dengan kendaraan PDIP, Yanni kembali maju bertarung di Pilkada kali kedua, mendampingi Yasti Soepredjo Mokoagow. Sukses lagi. Ia pun sudah menuntaskan tugas sebagai wabup 2017-2022.
berkarir dan turut membesarkan PDIP, membentuk karakter nasionalisme YRT, singkatan namanya. Itulah sebabnya ia diterima semua kalangan di Bolmong. Salah satu bukti adalah saat unggul survey, ketika bertarung di Pilkada Bolmong 2017. Dengan kendaraan PDIP, Yanni kembali maju bertarung di Pilkada kali kedua, mendampingi Yasti Soepredjo Mokoagow. Sukses lagi. Ia pun sudah menuntaskan tugas sebagai wabup 2017-2022.
Selain itu, Yanni juga
dikenal tak berbatas dengan kelompok muslim dan komunitas Bali di Dumoga
Raya. Yanni dalam kesehariannya mampu berbaur
dengan rakyat kecil sekaligus menarik simpati
mereka. Sisi itu telah menjadi bagian dari jalan
kehidupan Yanni sehari-hari, sehingga dia bisa
terpilih dua kali sebagai Anggota DPRD dan 2 kali
sebagai Wakil Bupati Bolaang Mongondow.
Bagi Yanni, kehidupan manusia sudah diatur oleh
Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia tinggal berikhtiar
dan menjalankannya, Tuhan selalu memberikan
sinyal dan hidayah bagi setiap manusia yang
pantang menyerah, dan selalu berjuang meraih
cita-cita. Kata Yanni pada suatu kesempatan bincang
denganya, di kediamannya di Desa Mogoyunggung,
kecamatan Dumoga Timur
Keluarga Banteng
Kesuksesan Yanni Ronny Tuuk membesarkan PDIP di Bolmong tak hanya dilakukan di luar rumah. Di setiap Dapil, PDIP selalu memperoleh kursi. Bakat dan karir politiknya juga merambah di dalam keluarga kecilnya. Ini terbukti saat istrinya, ikutan digembleng dengan idiologi partai hingga menjadi kader banteng sejati. Terbukti sang Istri, Leslie Lanny Kaligis, mendapat dukungan signifikan di Dapil 3 Bolmong dan berhasil memperoleh kursi, hingga menambah susunan squad banteng di legislatif.
Dalam capaian itu, sejumlah
kalangan berkomentar; keluarga
Yanni adalah “keluarga banteng”.
Squad yang dibangun tak hanya di
luar rumah, melainkan di dalam
rumah juga. Ibaratnya pondasi
sebuah rumah untuk seluruh
kader banteng. Setelah snag istri,
darah politisi kini menitis pada
putri sulungnya, Qhezia Qren
Tuuk, S.M.B.Bus. Perempuan
cantik ini sekarang berkecimpung
di dunia politik. Qhezia sekarang
menjabat sebagai Ketua Banteng Muda Indonesia
(BMI), Kabupaten Bolmong.
Chia, sapaan Qhezia yang lahir di Kotamobagu, 19
November 1997 silam, merasa bangga bisa mewarisi
darah politisi sang Ayah dan Ibunya. Ia turut andil
membangun PDIP di Bolmong. Selain memiliki
“darah politisi”, ditunjang pula wajah nan jelita, Chia
juga memiliki kecerdasan mumpuni. Pun jiwa sosial
tinggi, dan karakter petarung.
“Ini seperti panggilan jiwa yang sulit ditolak. Darah
Politisi sang ayah mungkin sudah mengalir di tubuh
saya,” ucap Chia dengan nada optimis.
“Selain mengidolakan Ayah, saya juga
mengidolakan Bung Karno,” kata Chia yang sudah
selesai menempuh studinya di Universitas Pelita
Harapan Kota Tangerang dan RMIT di University
Australia.
Sabtu (25/2) pekan lalu, Chia turut ambil bagian dalam acara bakti sosial, berupa Khitanan Massal yang berlangsung di Inobonto, Kecamatan Bolaang, dalam rangka memperingati Isra Mi’raj 1444 H, yang dirangkaikan dengan HUT ke-50 PDI Perjuangan.
Kepada koran ini Chia mengatakan ia begitu menikmati kegiatan Baksos yang diselenggarakan PDIP se-Sulut tersebut. Melalui kegiatan baksos ini, begitu terasa keterikatan dan keterhubungan dengan rakyat.
“Rasanya kegiatan seperti ini begitu memberi
makna, kita dapat bersama dan saling berbagi
dengan banyak orang. Di sini saya kian menemukan
jawaban, mengapa ayah dan ibu memilih karir
sebagai politisi. Rupanya chemistry yang mereka
temukan ketika bisa dekat, berbagi berkat dan
menjadi berkah kepada orang banyak. Itulah yang
membuat mereka memilih jalan ini,” tutup Chia.
Penulis: Buyung Potabuga
Artikel ini juga sudah tayang di manado post digital

Tidak ada komentar:
Posting Komentar