Minggu, 16 April 2023

Kenapa Elly Lasut Selalu Disingkirkan di Medan Perang Demokrasi?

Elly Angelbert Lasut
foto: istimewa

Melawan Lupa Untuk Tahun-tahun Yang Berulang di Pilgub Sulut


"Melawan Elly Engelbert Lasut dalam pertarungan politik yang fair dalam sistem demokrasi, akan menjadi neraka bagi mereka"


DIA yang terpilih tidak akan bisa dikalahkan. Demikian kebenaran yang termaktub dalam hati rakyat Sulawesi Utara hari ini. Dan kebenaran inilah yang mengancam sejumlah besar lawan politik Elly Engelbert Lasut hari ini.

Sebagai akibatnya, kita melihat ditahun-tahun sebelumnya bagaimana Elly terus menerus dikorbankan bagi kepentingan politik mereka. Elly, pada akhirnya, menjadi monster yang paling menakutkan bagi lawan-lawan politiknya. Sekuat apapun mereka, setinggi apapun popularitas mereka, sehebat apapun strategi mereka, nama Elly selalu muncul sebagai ancaman bagi kemenangan mereka, atau jaminan bagi kekalahan mereka, dalam kontestasi politik. Melawan Elly dalam pertarungan politik yang fair dalam sistem demokrasi, akan menjadi neraka bagi mereka.

13 tahun yang lalu, pada pemilihan Gubernur Sulawesi Utara 2010, Elly adalah nama yang menggentarkan lawan-lawan politiknya di Sulawesi Utara ketika, bersama Henny Wulur, dia maju sebagai calon gubernur Sulut. Kita kemudian tahu bahwa Elly tidak pernah dikalahkan di medan perang demokrasi. Skenario politik, dalam sebuah alur yang disusun berdasarkan jaringan canggih penghancuran karir politik dengan menggunakan hukum, diterapkan secara halus. Dalam bahasa hukum, Elly ditahan, disidang, dan dipenjarakan. Dalam bahasa politik, Elly dijegal. Dalam bahasa rakyat kecil, Elly dikorbankan.

Skenario yang sama, dalam alur yang agak berbeda, kembali diterapkan lima tahun kemudian atau, tepatnya pada Pilgub 2015, Pencalonan Elly sebagai gubernur, dengan menggandeng figur dari kubu Muslim, David Bobihoe, kembali diletakkan di bawah kilatan pedang algojo hukum. Waktu itu, hukum yang digunakan adalah peraturan KPU mengenai syarat pencalonan gubernur. Pencalonan Elly-David digugurkan oleh KPUD Sulut. Artinya, Elly sekali lagi berada dalam ancaman untuk disingkirkan dari medan demokrasi. Politik sekali lagi dipecundangi atas nama aturan dan hukum.

Tanpa niat untuk menyepelekan aturan dan hukum. Kita boleh bertanya, kenapa Elly selalu disingkirkan dari medan pertarungan demokratis? Kita boleh curiga untuk banyak alasan.

Elly jelas bukan lawan yang enteng dalam perhitungan kita atas kontestasi politik hari ini dan, juga, 13 tahun yang lalu. Dia selalu muncul sebagai kekuatan yang mengancam bagi lawan-lawan politiknya, seyakin apapun mereka pada kekuatan mereka sendiri. Bahkan bagi warga yang paling awam sekalipun, Elly tidak pernah hadir dalam kontestasi politik tanpa meninggalkan kesan menarik bagi mereka.

Berbeda dari kebanyakan politisi di Sulawesi Utara hari ini, Elly adalah figur yang muncul dari mimpi masyarakat Sulawesi Utara sendiri. Mimpi yang paling ditakuti oleh para politisi “utusan pusat kekuasaan”. Elly adalah Mimpi warga Sulut untuk memiliki pemimpin yang keringatnya benar-benar berbau Sulawesi Utara. Mimpi yang hanya bisa diwujudkan oleh seorang politisi yang keluar dari kantong rakyat Sulawesi Utara sendiri, bukan politisi yang keluar dari kantong para selebriti politik di pusat-pusat kekuasaan yang jauh di sana. Dan Elly Engelbert Lasut memenuhi semua kriteria itu. 

Elly adalah anak kandung Sulawesi Utara. Politisi yang dibesarkan oleh kenangan dan harapan warga Sulawesi Utara tanpa kegenitan untuk membesarkan nama dan mencari popularitas di panggung-panggung selebritas dari luar Sulawesi Utara. Sementara kebanyakan lawan politiknya berjuang menggelembungkan popularitas mereka di ruang-ruang ber-AC di Jakarta, Elly bersedia melukai tangannya sendiri demi menyentuh rakyat Sulawesi Utara. 

Ringkasnya, Elly adalah “the choosen one” alias “yang terpilih”. Dia telah dipilih jauh sebelum pemilihan itu sendiri dilaksanakan. Kita tahu itu, masyarakat tahu itu, dan lawan-lawan Elly juga tahu itu. Dan mereka tahu betul bahwa yang terpilih tidak akan bisa dikalahkan. Dia hanya bisa disingkirkan dari pemilihan. Adapun skenario strategis bagi penyingkiran itu tidak perlu disusun baru. Mereka hanya perlu mengulang skenario yang sama yang pernah diterapkan dengan sangat berhasil pada tiga belas tahun yang lalu. Dan kita tidak boleh membiarkannya. Bukan atas nama Elly Engelbert Lasut tapi atas nama demokrasi di bumi nyiur melambai yang sama kita cintai ini. (*)

@ dari timur totabuan, tempat dimana bintang mercy bersinar.
@ boltim, 16 april 2023_ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Benny Rhamdani Dan Suara Keberanian dalam Politik Indonesia

Keberanian Menyuarakan Kebenaran di Tengah Risiko Keberanian adalah sebuah sikap yang seringkali langka ditemui, terutama dalam dunia politi...