Tangoi Noisimpuloi
foto; Chairun Mokoginta,
sumber: internet
, Kriteria, Hingga Gelar Bogani (bag. 1)

sumber: internet
(Dalam Pandangan Budayawan Chairun Mokoginta)
Dalam Budaya Bolaang mongondow gelar itu sama dengan Nama, yang dalam bahasa daerah Bolaang Mongondow disebut Tangoi. Adapun dalam artian etimologi nama atau tangoi itu terbagi dalam tiga bagian. Pertama yang disebut dengan Tangoi Noitombuloi artinya Nama yang terpatri selamanya, Tangoi Noidonoi artinya nama yang menempel, dan Tangoi Noisimpuloi yang berati nama yang melilit.
Sedangkan dalam pemaknaanya Tangoi Notoimbuloi itu berarti nama yang dibawah sampai mati, dan nama yang hanya bisa berubah kecuali atas kemauan sendiri. Tangoi Noidonoi adalah nama yang suatu waktu bisa berubah, contohnya jika seseorang laki-laki yang sudah menikah kemudian punya anak, dalam budaya Mongondow, nama lelaki tersebut akan dipangil dengan sebutan mengunakan nama anaknya untuk ditempelkan pada panggilanya sebagai bapak. Contohnya nama pemanggilan atas namaya akan berubah menjadi Papa Fulan (ayah dari fulan) misalnya. Adapun Tangoi Noisimpuloi dalam filosofinya, adalah yang disebut Gelar.
Menurut
Chairun Mokoginta, gelar dalam makna filosofinya berarti; sebuah nama yang secara serta merta telah melilit atau
membungkus diri seseorang, juga menjadi perombak dalam status social orang
tersebut. Gelar dapat diperoleh dengan dua cara, pertama; Gelar yang melilit,
membungkus seseorang karena darah dan keturunanya yang tidak terputus dari
leluhur. Dan yang kedua; Gelar yang diberikan kepada seseorang. Contohnya Gelar
Sangadi (sebutan bagi kepala desa), kelak
ketika seseorang tersebut bukan lagi Kepala Desa, maka dia bukan lagi dipanggil
sebagai Sangadi.
BOGANI
![]() |
| Proses penyematan Gelar Bogani oleh Chairun Mokoginta |
Menurut Budayawan Chairun Mokoginta, didalam tradisi orang Mongondow mula-mula, Bogani adalah gelar yang pertama dan yang tertua dalam sejarah manusia Bolaang Mongondow. Dalam penyematan Gelar Bogani, dahulunya hal itu harus melewati sebuah proses panjang dalam memilih seorang pemimpin yang akan di sebut seorang Bogani. Proses tersebut dimulai dengan sebuah ritual yang dinamakan Motayok. Motayok adalah sebuah ritual yang digunakan untuk meminta bantuan leluhur. Ritual Motayok ini sudah dilakukan dizaman ribuan tahun sebelum masa punu’/raja.
Lebih lanjut, Chairun Mokoginta menjelaskan, dalam sebuah proses penyematan Gelar Bogani di masa lampau, itu dimulai dri sebuah proses pengkaderan. Yaitu ada sekelompok laki-laki dan perempuan yang akan terus dilatih. Pertama, para kader yang di persiapkan untuk mendapatkan gelar Bogani tersebut, mereka akan diperkenalkan terlebih duhulu tentang ilmu dasar tata cara mempersiapkan sebuah ritual yang disebut Ritual Mogibol, dan segalamacam bahan-bahan perlengkapan yang harus di persiapkan dalam ritual tersebut. Ketika mereka terlihat sudah menguasai ilmu dasar Ritual Mogibol, kemudian prosesnya meningkat lagi, dan mereka akan disebut Posindogon. Posindogon itu adalah sebuah proses pengkaderan sebelum dia menjadi Bolian. Saat prosesi Posindogon, para kader tersebut masih didamping oleh tokoh-tokoh adat, ketika dia sudah dianggap lulus, baru kemudian naik satu tingkat lagi, sehingga seseorang tersebut sudah bisa disebut sebagai Bolian. Bolian berarti orang yang sudah bisa melakukan proses ritual sendiri.
Setelah menjadi Bolian, mereka sudah mulai masuk pada kemampuan supranatural, kemudian ilmu-ilmu supranatural sudah mulai ditanamkan kepada mereka. Setelah menjadi Bolian, proses para kader itu meningkat lagi menjadi Burangin. Burangin adalah para kader yang sudah menguasai tradisi dan kemampuan supranatural yang super. Dan pada puncaknya dari sekian banyak kader yang telah menjadi seorang Burangin, lalu mereka akan saling diadu, untuk mendapatkan pemenang yang mempunyai keterampilan supranartural yang paling hebat, hingga muncul satu orang saja yang terhebat diantara mereka. Makanya dari sekian banyak Burangin, ada satu yang dipilih sebagai pemimpin dari Burangin. Seorang yang tak terkalahkan diantara Burangin itu, diangkatlah dia sebagai seorang dengan Gelar BOGANI. Jelas Chairun Mokoginta.
KRITERIA MENJADI BOGANI
![]() |
| Bogani Ki Limi dan Boki' Ki Iryanti |
Lebih lanjut, Kriteria yang kedua adalah; yang disebut MOKORAKUP. Secara etimologi Mokorakup artinya mampu menggenggam dalam satu tangan, tapi secara filosofi mokorakup berarti seseorang yang mampu mengayomi seluruh anggota masyarakat dalam segala kebutuhanya. Dalam artian yang luas Mokorakup adalah kemampuan mensejahterakan masyarakat. Sebab Leluhur Bolaang Mongondow dalam mengartikan bahasa, mereka tidak menerjemahkan sesuatu bahasa berdasarkan pada makna etimologi, tapi selalu pada makna fhilosofi. Sebut Chairun Mokoginta.
Sedangkan kriteria yang ketiga adalah yang disebut MOKODIA. Mokodia dalam pemaknaanya adalah seseorang yang mampu menerapkan berbagai ketentuan agar masyarakat itu bisa aman. Ketentuan tersebut berupa sangsi-sangsi adat. Dan seseorang yang disebut Mokodia itu adalah, ketika ia sudah mampu menerapkan aturan-aturan tersebut kepada semua kelompok masyarakatnya tanpa terkecuali.
Kriteria yang ke-empat adalah seseorang yang disebut MOKOANGA’. Padanan kata yang setara dengan kata mokoanga’ adalah seseorang yang mampu menarik simpati banyak orang. Mokoanga’ juga dalam pemaknaanya disini terbagi dalam dua hal. Pertama Mokoanga’ dalam hal prilaku, mental, dan seseorang yang tidak tercelah. Yang kedua adalah Mokoanga’ dalam penampilan fisik. Oleh sebab itu para Bogani juga dalam tampilan berpakaian, mereka selalu tampil berbeda dan berwibawah.
Kesimpulanya, Chairun Mokoginta dalam sebuah penelitiannya, menjelaskan bahwa ke-empat kriteria tersebut diatas, masih sangat relefan untuk dipakai dizaman sekarang ini. Empat kriteria itulah yang membentuk seorang menjadi Bogani. Oleh sebab itu, Bogani itu adalah sebuah gelar yang super dan komprehensif. Dari seluruh gelar yang pernah ada dalam sejarah orang Mongondow, Bogani adalah gelar yang paling tinggi. Tutur Chairun Mokoginta.
Penulis: Buyung Potabuga


Tidak ada komentar:
Posting Komentar