Kamis, 07 Desember 2023

4 SKETSA KATA TENTANG FERAMITHA

foto istimewa: Feramitha Tiffany Mokodompit
Feramitha Tiffany Mokodompit bukan hanya sebuah nama. Juga bukan semata janji. Feramitha adalah politisi muda yang sedang dipersembahkan rakyat Bolaang Mongondow Raya pada Sulawesi Utara dan, kelak nanti, Indonesia.

Maju dalam pertarungan menduduki kursi dewan rakyat Sulawesi Utara dari kantong Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dengan basis Bolmong Raya, Feramitha menjadi catatan utama dalam lingkup partai politik maupun dalam ingatan rakyat Bolaang Mongondow Raya. Catatan tentang politisi perempuan muda progresif.

Sketsa Pertama

Feramitha POLITISI Perempuan Muda Progresif

Sebagai politisi, Feramitha Tiffany Mokodompit adalah wajah baru. Itu artinya harapan, termasuk janji dan apa yang selalu kita sebut sebagai regenerasi. Politik dengan janji tanpa regenerasi bisa berarti omong kosong sepanjang jalan. Politik dengan regenerasi tanpa janji, tak pernah bisa dianggap serius.

Feramitha memikul keduanya – janji dan regenerasi – di satu pundak yang sama. Adapun pundaknya yang lain digunakan untuk memikul harapan dan, tentu saja, beratnya proses politik baginya sebagai perempuan, anak muda, dan seseorang dengan gagasan progresif.

Kita tidak akan bicara soal kedua pundak Feramitha itu, kita akan bicara soal bagaimana dia menghidupkan dialektika janji dan regenerasi di satu pundaknya, serta harapan dan proses politik di pundaknya yang lain. Juga, bagaimana itu mungkin baginya sebagai seorang politisi.

Semua itu dimulai dari biografi Feramitha sebagai anak perempuan dengan DNA politisi-birokrat yang diwariskan bapaknya, Limi Mokodompit. Pada sang putri bungsu ini, DNA kombinasi itu diberi makna yang jauh lebih progresif dalam kerangka milenial.

Politisi, dalam tafsir positif Feramitha dan generasinya, harus dikembalikan pada figurasi negarawan dalam bahasa politik modern dengan kecanggihan memanfaatkan informasi ala generasi gadget dan google. Dalam tafsir ini, citra politisi yang cenderung negatif pada kaum muda hendak dipermak dengan menggunakan logika generasi mereka.

Adapun birokrat, yang tak jarang memikul citra yang bisa jauh lebih negatif lagi, diberi tafsir positif hingga bermakna pekerja negara dengan kecanggihan teknis administratif. Dalam tafsir ini, birokrat berarti figur dengan kemampuan mengatur jalannya roda pemerintahan sesuai yang direncanakan.

Adapun tafsir tafsir itu, dalam biografi Feramitha, hadir lewat kiprahnya di sepanjang hayat hingga hari ini. Pada puncak dialektika DNA dan tafsirnya itu, Feramitha menduduki jabatan ketua DPD KNPI Bolaan Mongondow dan calon legislatif PDIP untuk dewan rakyat Sulawesi Utara.

Paduan figur politisi sebagai negarawan dan birokrat sebagai teknisi pemerintahan adalah apa yang akan diberikan rakyat Bolaang Mongondow Raya pada Sulawesi Utara dan Indonesia lewat Feramitha Tiffani Mokodompit. Itulah juga paduan dialektis antara janji dan regenerasi yang dipikul Feramitha.

Dengan DNA politisi-birokrat, Feramitha memikul janji. Dengan tafsir negarawan pekerja, dia memikul regenerasi. Keduanya adalah langkah dialektis yang akan memungkinkan dialektika harapan dan proses politik pada satu orang Feramitha.

Bersambung...

Minggu, 24 September 2023

Kalu Suka, Sehan Jo!

Sehan S Landjar, SH.
Calon Anggota DPR-RI Dapil Sulut

Ihwal Suka Ria, dan Suka-Suka Sehan S. Landjar SH

"Di tengah lorong gelap yang terasa panjang, dalam mencari dan menimbang-nimbang wakil rakyat yang pantas untuk mewakili Sulawesi Utara di DPR RI,  Sehan S Landjar, SH menjadi salah satu yang perlu ditimbang dan menjadi pilihan." 

Tak hanya itu, Sehan S Landjar juga adalah sebuah harapan. Kehadiranya menggarisbawahi fakta bahwa di tengah “buruk rupa wajah wakil rakyat” selalu saja tersedia harapan. Dan harapan itu bernama Sehan Landjar.

Tak terkecuali di Sulawesi Utara, di Bolaang Mongondow Raya, kita seakan berhenti di garis takdir sejarah kehidupan lama, bahwa semua pemimpin daerah, wakil rakyat di DPR, bahkan pemimpin negeri ini, harus dari keturunan darah biru atau mininmal anak dari pejabat tinggi atau juga konglomerat. 

Hal tersebut tidak berlaku pada mantan bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sehan Landjar. Ia memulai semua yang pernah diraihnya sampai hari ini, dari kehidupan keluarga kecil dan sederhana. Ia berusaha sendiri dari nol sampai menjadi mandiri. Atas kegigihan dan kerja keras, kendaraan nasib telah mengantarkannya ke kursi DPRD di Kabupaten Gorontalo pada periode 2004-2009, dan juga menjadi Bupati Boltim selama dua periode (2010-2015 dan 2016-2021). Bukan karena harta atau citra, tapi karena kerja dan ketulusan Sehan Landjar berbagi dengan rakyat kecil.

Sehan S Landjar mengajarkan kita untuk jujur, sederhana, dan berbagi apa adanya. Di lain sisi ia juga memberikan kita contoh untuk berjuang bagi semua orang. Menjadi orang baik itu memang sangat berat bagi Sehan Landjar, di tengah orang-orang yang menentangnya, mencurigai, menfitnah, tapi bagi Sehan, kebaikanlah yang selalu menang di akhir sebuah bagian episode hidup.

Dari semua pencapaian Sehan Landjar, seolah ia telah menunjukkan pada kita, bahwa siapapun bisa menjadi apapun yang diinginkannya. Sehan memiliki tujuan hidup untuk mengabdi, dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Ia bak anak panah zaman, dan menjadi cahaya peradaban. Ia sosok manusia yang bermodalkan kerendahan hati, dan senantiasa tersenyum dalam keadaan apapun. 

Negeri ini memang memerlukan gaya kepemimpinan seperti yang di contohkan Sehan Landjar. Yang menjadikan jabatan sebagai milik rakyat, sehingga segala kebijakannya untuk kebaikan rakyat. 

Bagi Sehan “Memimpin adalah menderita,”. Menderita bukan berarti masuk penjara, karena saat ini pemimpin (pusat dan daerah) masuk penjara karena korupsi. Menderita bisa di pahami sebagai kepekaan pemimpin terhadap penderitaan rakyatnya.

Pemimpin seperti ini sensitif atas keluhan, suara hati, dan beratnya hidup yang di tanggung oleh rakyatnya. Selama kepemimpinan Sehan saat menjadi Bupati di Boltim dalam dua periode, ia membuat kebijakan bukan untuk menyingkirkan atau menzholimi juga memperkaya diri, tapi memberikan jalan keluar bagi setiap persoalan pemerintah dan rakyat. Yang memanusiakan. Adakah pemimpin seperti itu di negeri ini? Langka, tentu saja.

Tapi, banyak dari kita sepakat, bahwa Sehan Landjar, adalah pemimpin yang seperti itu. Ia seakan oase di tengah krisis kepemimpinan di negeri ini. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menyadari bahwa jabatan yang diembannya sebagai milik rakyat.

Belajar darinya, bahwa kebijaksanaan tidak lagi merupakan kebijaksanaan apabila ia menjadi terlalu angkuh untuk menangis, terlalu serius untuk tertawa, dan terlalu egois untuk melihat yang lain kecuali diri mereka sendiri. 

Kembali ke Sehan Landjar ketika di tanya soalan sikapnya untuk maju ke DPR RI dapil Sulawesi Utara? Sederhana dia menjawab. “Kursi wakil rakyat adalah milik rakyat. Rakyatlah yang berkepentingan bukan saya. Jika menurut rakyat saya tidak membawa manfaat silahkan memilih calon wakil rakyat lain yang menurutnya bermanfaat. Namun jika menurut rakyat, saya membawa manfaat bagi kebanyakan rakyat, maka biarlah rakyat pula yang mencalonkan saya,” tutur Sehan. 

Memang sungguh Sehan tidak hanya telah mendatangi pintu rumah setiap rakyat. Tetapi Sehan Landjar telah mengunjungi segenap hati dan sanubari rakyat di Sulawesi Utara.

“Kalu Suka, Sehan Jo!” ucap Sehan S Landjar, SH.

Penulis: Buyung Potabuga.

Benny Rhamdani Dan Suara Keberanian dalam Politik Indonesia

Keberanian Menyuarakan Kebenaran di Tengah Risiko Keberanian adalah sebuah sikap yang seringkali langka ditemui, terutama dalam dunia politi...