Rabu, 26 April 2023

Dian Agriani Mamonto “Sang Petarung” Siap Munuju Kursi DPRD Boltim

Dian Agriani Mamonto
foto: istimewa

"Berkomitmen Degan Rakyat Untuk Perubahan dan Perbaikan"

Dian Agriani Mamonto, Putri kelahiran Desa Motongkad 30 Mei 1981, kembali membulatkan tekadnya untuk maju dan bertarung sebagai calon legislatif (Caleg) untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), pada pemilihan umum (Pemilu) Legislatif 2024, melalui Partai Demokrat.

Bermodalkan 700-an suara pemilih yang dia peroleh di-Pileg 2019 silam, membuat ia kembali didapuk untuk menjadi Bakal Calon Legislatif di dapil 2, yakni Kecamatan Motongkad dan Kecamatan Nuangan. 

Kepada media ini, Kamis (27/4), Dian mengatakan saat ini berbagai strategi telah ia lakukan dengan tujuan meraih simpati masyarakat, dan mendapatkan hati mereka sebagai modal untuk maju pada kontestasi pemilihan legislatif.

Ia mengaku, bahwa sebagai putri yang dibesarkan di Desa Motongkad, yang lahir dari lingkungan arus bawah tentu menyadari begitu pelik kehidupan rakyat yang jauh dari perhatian pihak pemerintah daerah. Sehingga hal tersebut memotivasi dirinya untuk memantapkan tekad maju ke bursa pemilu legislatif demi sebuah harapan sejumlah rakyat yang dititipkan padanya.

Dian Agriani Mamonto bersama
Wakil Bupati Boltim Oskar Manoppo
Anak sulung dari 3 bersaudara, putri pasangan Syafrudin Mamonto dan Hj Talha Alaydrus ini, dipastikan akan maju ke bursa legislatif 2024, mengendarai Partai Demokrat. Hal ini dikuatkan dengan komunikasi politiknya bersama beberapa tokoh utama partai demokrat di Boltim yakni Argo Sumaiku sebagai ketua DPC Partai Demokrat, dan Oskar Manoppo yang tidak lain adalah Bakal Calon Bupati yang akan diusung oleh Partai Demokrat di Pilkada 2024 mendatang. dari informasi yang berhasil dirangkum, Dian sendiri telah mengantongi nomor urut 1 dalam line-up Bacaleg partai Demokrat untuk dapil 2.

Sebagai politisi muda ia mengaku, dirinya telah memberikan diri sepenuhnya untuk berjuang demi kepentingan rakyat. Sebab menurutnya seorang calon anggota legislatif harus mempunyai komitmen untuk memperjuangkan aspirasi rakyat. 

“Komitmen itu merupakan hal terpenting. Apalagi dengan melihat kondisi sosial masyarakat khususnya di dapil 2 Motongkad dan Nuangan, tempat tanah kelahiran saya, belum begitu diperhatikan oleh pemerintah daerah. Baik itu dalam pemberian alokasi anggaran pembangunan dan bantuan, atau pengawasan untuk mencegah terjadinya praktek korupsi ditiap-tiap program pembangunan pemerintah daerah. Nah hal ini adalah tugas dan fungsi dari wakil rakyat di DPRD. Untuk memperjuangkan anggaran sebesar-besarnya dan dibawah ke dapilnya, juga mengawasi jalannya pembangunan di daerah pemilihannya,". tandas Dian.

Begitu pula, kata dia, tentang kebijakan dalam hal fungsi legislasi atau pembuatan undangan-undang di DPRD. Hal ini akan ia manfaatkan dengan betul jika ia terpilih sebagai wakil rakyat, sebab disitu ia bisa memperjuangkan hak-hak masyarakat yang berkaitan dengan undang-undang dan peraturan daerah. Sebab dalam benaknya terselip niat untuk memperjuangkan tanah-tanah HGU yang ada di wilayah dapilnya, agar bisa dikembalikan kepemilikannya secara sah ke masyarakat.

"Di desa Motongkad ada lahan HGU, dan HGU tersebut bisa dikembalikan kepada masyarakat dan disertifikasi atas nama mereka. Hal itu bisa diperjuangkan di lembaga DPRD, sebab salah satu tugas DPR itu adalah persoalan legislasi. DPRD memiliki tiga fungsi, yaitu: Legislasi, yang berkaitan dengan pembentukan peraturan daerah. Anggaran, Kewenangan dalam hal anggaran daerah (APBD), dan Pengawasan, Kewenangan mengontrol pelaksanaan perda dan peraturan lainnya serta kebijakan pemerintah daerah," urai Dian, pengusaha mandiri yang kini tercatat sebagai koordinator wilayah Indonesia Timur biro travel Umroh/haji, di PT Rihlahtul Hidayah Wisata.

Walau boleh dibilang sebagai pendatang baru, dan harus bersaing dengan rivalnya di luar partai, Dian Agriani Mamonto yang dikenal sebagai wanita petarung ini tetap merasa optimis. Bahkan dia mengatakan; untuk memperjuangkan hak-hak rakyat di DPRD, dia sudah siap dengan segala strateginya.

"Meski saya dibilang pendatang baru, tapi hal itu tak akan pernah menyurutkan niat untuk menyerah, bersaing untuk kepentingan rakyat. Dan hal itu wajar, sebab pada kontestasi politik di 2019 lalu, saya sudah mengantongi 700 lebih suara rakyat yang memilih saya. Kepada mereka itulah saya sudah memantapkan sikap, dan menanamkan dalam diri saya, agar terus berupaya untuk menjadi manusia yang memiliki manfaat bagi banyak ummat. Dengan berpolitik yang berlandaskan syariat, agar saya bisa bermanfaat bagi rakyat. Sebab amanah dari rakyat akan dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan Tuhan yang Maha Kuasa". Ucap Dian menjelaskan pedoman hidupnya.

 

Penulis: Buyung Potabuga

Dian Agriani Mamonto
Foto: Istimewa


 

x

Minggu, 16 April 2023

Kenapa Elly Lasut Selalu Disingkirkan di Medan Perang Demokrasi?

Elly Angelbert Lasut
foto: istimewa

Melawan Lupa Untuk Tahun-tahun Yang Berulang di Pilgub Sulut


"Melawan Elly Engelbert Lasut dalam pertarungan politik yang fair dalam sistem demokrasi, akan menjadi neraka bagi mereka"


DIA yang terpilih tidak akan bisa dikalahkan. Demikian kebenaran yang termaktub dalam hati rakyat Sulawesi Utara hari ini. Dan kebenaran inilah yang mengancam sejumlah besar lawan politik Elly Engelbert Lasut hari ini.

Sebagai akibatnya, kita melihat ditahun-tahun sebelumnya bagaimana Elly terus menerus dikorbankan bagi kepentingan politik mereka. Elly, pada akhirnya, menjadi monster yang paling menakutkan bagi lawan-lawan politiknya. Sekuat apapun mereka, setinggi apapun popularitas mereka, sehebat apapun strategi mereka, nama Elly selalu muncul sebagai ancaman bagi kemenangan mereka, atau jaminan bagi kekalahan mereka, dalam kontestasi politik. Melawan Elly dalam pertarungan politik yang fair dalam sistem demokrasi, akan menjadi neraka bagi mereka.

13 tahun yang lalu, pada pemilihan Gubernur Sulawesi Utara 2010, Elly adalah nama yang menggentarkan lawan-lawan politiknya di Sulawesi Utara ketika, bersama Henny Wulur, dia maju sebagai calon gubernur Sulut. Kita kemudian tahu bahwa Elly tidak pernah dikalahkan di medan perang demokrasi. Skenario politik, dalam sebuah alur yang disusun berdasarkan jaringan canggih penghancuran karir politik dengan menggunakan hukum, diterapkan secara halus. Dalam bahasa hukum, Elly ditahan, disidang, dan dipenjarakan. Dalam bahasa politik, Elly dijegal. Dalam bahasa rakyat kecil, Elly dikorbankan.

Skenario yang sama, dalam alur yang agak berbeda, kembali diterapkan lima tahun kemudian atau, tepatnya pada Pilgub 2015, Pencalonan Elly sebagai gubernur, dengan menggandeng figur dari kubu Muslim, David Bobihoe, kembali diletakkan di bawah kilatan pedang algojo hukum. Waktu itu, hukum yang digunakan adalah peraturan KPU mengenai syarat pencalonan gubernur. Pencalonan Elly-David digugurkan oleh KPUD Sulut. Artinya, Elly sekali lagi berada dalam ancaman untuk disingkirkan dari medan demokrasi. Politik sekali lagi dipecundangi atas nama aturan dan hukum.

Tanpa niat untuk menyepelekan aturan dan hukum. Kita boleh bertanya, kenapa Elly selalu disingkirkan dari medan pertarungan demokratis? Kita boleh curiga untuk banyak alasan.

Elly jelas bukan lawan yang enteng dalam perhitungan kita atas kontestasi politik hari ini dan, juga, 13 tahun yang lalu. Dia selalu muncul sebagai kekuatan yang mengancam bagi lawan-lawan politiknya, seyakin apapun mereka pada kekuatan mereka sendiri. Bahkan bagi warga yang paling awam sekalipun, Elly tidak pernah hadir dalam kontestasi politik tanpa meninggalkan kesan menarik bagi mereka.

Berbeda dari kebanyakan politisi di Sulawesi Utara hari ini, Elly adalah figur yang muncul dari mimpi masyarakat Sulawesi Utara sendiri. Mimpi yang paling ditakuti oleh para politisi “utusan pusat kekuasaan”. Elly adalah Mimpi warga Sulut untuk memiliki pemimpin yang keringatnya benar-benar berbau Sulawesi Utara. Mimpi yang hanya bisa diwujudkan oleh seorang politisi yang keluar dari kantong rakyat Sulawesi Utara sendiri, bukan politisi yang keluar dari kantong para selebriti politik di pusat-pusat kekuasaan yang jauh di sana. Dan Elly Engelbert Lasut memenuhi semua kriteria itu. 

Elly adalah anak kandung Sulawesi Utara. Politisi yang dibesarkan oleh kenangan dan harapan warga Sulawesi Utara tanpa kegenitan untuk membesarkan nama dan mencari popularitas di panggung-panggung selebritas dari luar Sulawesi Utara. Sementara kebanyakan lawan politiknya berjuang menggelembungkan popularitas mereka di ruang-ruang ber-AC di Jakarta, Elly bersedia melukai tangannya sendiri demi menyentuh rakyat Sulawesi Utara. 

Ringkasnya, Elly adalah “the choosen one” alias “yang terpilih”. Dia telah dipilih jauh sebelum pemilihan itu sendiri dilaksanakan. Kita tahu itu, masyarakat tahu itu, dan lawan-lawan Elly juga tahu itu. Dan mereka tahu betul bahwa yang terpilih tidak akan bisa dikalahkan. Dia hanya bisa disingkirkan dari pemilihan. Adapun skenario strategis bagi penyingkiran itu tidak perlu disusun baru. Mereka hanya perlu mengulang skenario yang sama yang pernah diterapkan dengan sangat berhasil pada tiga belas tahun yang lalu. Dan kita tidak boleh membiarkannya. Bukan atas nama Elly Engelbert Lasut tapi atas nama demokrasi di bumi nyiur melambai yang sama kita cintai ini. (*)

@ dari timur totabuan, tempat dimana bintang mercy bersinar.
@ boltim, 16 april 2023_ 

Benny Rhamdani Dan Suara Keberanian dalam Politik Indonesia

Keberanian Menyuarakan Kebenaran di Tengah Risiko Keberanian adalah sebuah sikap yang seringkali langka ditemui, terutama dalam dunia politi...